Jakarta, Katasulsel.com – Badan Gizi Nasional (BGN) berganti nakhoda di tengah sorotan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Nanik Sudaryati Deyang resmi mengundurkan diri dari jabatan Kepala BGN dengan alasan kesehatan, sementara penggantinya, Sudaryono, langsung mengeluarkan peringatan tegas agar tidak ada pihak yang mencatut nama dirinya, keluarga, maupun orang terdekat untuk memperoleh keuntungan dari program pemerintah tersebut.
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan Publik, Dirgayuza Setiawan, mengatakan Nanik telah menyampaikan langsung pengunduran dirinya kepada Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena Nanik akan menjalani pengobatan penyakit jantung di luar negeri.
“Hari ini Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung sekaligus mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional,” ujar Dirgayuza.
Pengunduran diri Nanik menjadi perhatian publik karena terjadi ketika BGN masih berada dalam sorotan menyusul penyidikan dugaan korupsi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Namun hingga kini, pemerintah menegaskan alasan pengunduran diri Nanik murni karena kondisi kesehatan. Belum ada pernyataan resmi yang mengaitkan pengunduran dirinya dengan perkara hukum yang sedang ditangani aparat penegak hukum.
Di tengah situasi tersebut, Sudaryono yang dipercaya memimpin BGN langsung menyampaikan komitmennya membangun tata kelola yang transparan. Dalam pernyataan perdananya, ia menegaskan tidak memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dapur MBG, maupun keluarga yang terlibat dalam pengelolaan program tersebut.
“Saya tidak punya SPPG, saya tidak punya dapur, saya tidak ada keluarga saya yang punya dapur dan punya SPPG,” tegas Sudaryono.
Ia juga meminta masyarakat tidak mudah percaya apabila ada pihak yang mengatasnamakan dirinya untuk menawarkan jasa, meminta imbalan, atau menjanjikan kemudahan dalam pelaksanaan program MBG.
“Kalau ada orang yang mengaku keluarga saya, sahabat saya, teman saya, atau orang saya untuk menawarkan jasa dengan imbalan tertentu, saya pastikan itu tidak benar. Silakan laporkan kepada pihak yang berwajib,” ujarnya.
Sudaryono menegaskan seluruh proses di lingkungan BGN harus berjalan sesuai mekanisme dan dilakukan secara terbuka. Menurutnya, setiap persoalan harus diselesaikan melalui sistem, bukan berdasarkan kedekatan personal ataupun pertemuan tertutup.
“Kita bukan lagi trust in person. Segala sesuatu harus dibahas di ruang-ruang yang terang dan transparan, bukan di ruang-ruang yang remang-remang atau tertutup,” katanya.
Pergantian kepemimpinan BGN sekaligus menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang merupakan salah satu program prioritas nasional. Pesan pertama Sudaryono yang menekankan transparansi dan menolak praktik pencatutan nama dinilai menjadi sinyal awal pembenahan tata kelola di tubuh BGN di tengah tingginya perhatian publik terhadap program tersebut.(*)
