Makassar, Katasulsel.com — Sebuah bola rotan melayang di udara. Pemain harus menjaga agar bola tetap bergerak sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

Permainan seperti ini dikenal di Sulawesi Selatan dengan nama A’raga atau Ma’raga.

Namanya mungkin tidak terlalu akrab bagi generasi sekarang. Namun, permainan tersebut telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2016 dan ditetapkan dalam domain kemahiran dan kerajinan tradisional.

A’raga memiliki hubungan dengan permainan sepak raga, yakni permainan yang menggunakan bola berbahan rotan dan mengandalkan keterampilan pemain untuk mempertahankan bola agar tetap berada di udara.

Yang menarik, permainan ini tidak membutuhkan lapangan dengan perlengkapan rumit.

Sebuah bola rotan dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh sudah menjadi bagian utama permainan.

Bola Rotan yang Harus Tetap Bergerak

Berbeda dari sepak bola yang bertujuan memasukkan bola ke gawang, A’raga lebih menonjolkan kemampuan pemain mempertahankan bola.

Bola rotan dimainkan menggunakan anggota tubuh, terutama kaki. Pemain perlu memperkirakan arah datangnya bola, mengatur posisi tubuh, kemudian memberikan sentuhan agar bola kembali melambung.

Di sinilah keterampilan menjadi bagian penting.

Bola yang terlalu rendah akan sulit dikendalikan. Sebaliknya, bola yang terlalu tinggi juga membutuhkan kemampuan membaca arah jatuhnya.

Permainan kemudian menjadi rangkaian gerakan untuk menjaga bola tetap berada di udara.

Tidak ada satu gerakan yang berdiri sendiri.

Setiap sentuhan harus diperhitungkan agar bola dapat kembali diterima pemain berikutnya.

Dari Bola Rotan, Muncul Permainan yang Mengandalkan Ketangkasan

Ma’raga dikenal sebagai salah satu permainan rakyat yang berkembang di Sulawesi Selatan.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan pernah menempatkan Ma’raga atau A’raga sebagai bagian dari permainan tradisional yang dimainkan masyarakat. Dalam publikasi kebudayaan tersebut, Ma’raga dijelaskan sebagai bentuk sepak raga yang menggunakan bola rotan.

Permainan semacam ini membutuhkan koordinasi tubuh.

Pemain tidak hanya harus mampu menendang bola, tetapi juga memperkirakan ke mana bola akan bergerak setelah disentuh.

Karena bola dibuat dari rotan, bentuk dan karakter permukaannya berbeda dengan bola modern yang digunakan dalam olahraga populer sekarang.

Bola tersebut dibuat dengan teknik anyaman.

Artinya, keterampilan membuat alat permainan juga menjadi bagian dari pengetahuan tradisional yang melekat pada A’raga.

Bukan Sekadar Menendang Bola

Kalau hanya melihat dari jauh, A’raga mungkin tampak seperti permainan menendang bola.

Padahal, kemampuan pemain terlihat dari bagaimana ia menjaga ritme permainan.

Satu pemain memberikan sentuhan.

Bola naik.

Pemain lain bersiap.

Sentuhan berikutnya menjaga bola tetap hidup.

Gerakan tersebut dapat dilakukan berulang-ulang selama para pemain mampu mengendalikannya.

Karena itu, permainan ini mempertemukan dua jenis keterampilan sekaligus: kemampuan membuat bola rotan dan kemampuan memainkannya.

Keduanya sama-sama membutuhkan keterampilan yang dipelajari.

Pernah Menjadi Bagian dari Permainan Rakyat

Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan mencatat Ma’raga dalam tulisan kebudayaan yang diterbitkan pada 2018. Saat itu, permainan tradisional tersebut disebut sebagai salah satu permainan rakyat yang dapat muncul dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk perlombaan.

A’raga kemudian secara resmi masuk daftar WBTB Indonesia pada 2016 bersama sejumlah karya budaya Sulawesi Selatan lainnya, seperti Mappadendang, Tudang Sipulung, Mappalili Sigeri, Maudu Lompoa, dan Lipa Sabbe.

Penetapan itu bukan berarti A’raga menjadi permainan baru.

Sebaliknya, status tersebut mencatat keberadaannya sebagai salah satu warisan budaya yang telah berkembang dalam masyarakat dan memenuhi persyaratan penetapan WBTB.

Dalam daftar resmi pemerintah, A’raga/Ma’raga tercatat sebagai karya budaya dari Sulawesi Selatan.

Hari ini, permainan bola dengan rotan mungkin kalah populer dibandingkan olahraga yang menggunakan bola modern.

Namun A’raga memperlihatkan bahwa sebelum permainan olahraga modern memenuhi ruang bermain masyarakat, sudah ada permainan yang menguji kemampuan tubuh dengan cara yang sederhana.

Sebuah bola rotan dilempar.

Kaki bergerak.

Bola kembali naik.

Dan selama pemain masih mampu menjaganya tetap di udara, permainan belum selesai.(*)