Jakarta, katasulsel.com –– Dunia hiburan kembali dibuat terkejut. Sosok mantan artis dan model, Fabiola Elizabeth Agnes, kini harus berhadapan dengan hukum setelah namanya terseret dalam kasus penipuan daring jaringan internasional yang dibongkar Polda Jawa Tengah.
Di balik gemerlap masa lalunya sebagai figur publik, tersimpan cerita yang jauh dari sorotan kamera. Polisi mengungkap, faktor ekonomi menjadi alasan utama Fabiola menerima tawaran pekerjaan yang belakangan diketahui merupakan bagian dari sindikat love scam atau pig butchering.
Menurut penyidik, Fabiola bergabung dengan jaringan tersebut sejak Januari 2026 setelah menemukan informasi lowongan pekerjaan melalui media sosial Facebook dan TikTok. Tawaran yang datang saat itu terlihat seperti pekerjaan biasa dengan penghasilan yang sangat menggiurkan.
Dalam struktur organisasi sindikat tersebut, Fabiola diduga berperan sebagai model yang bertugas melakukan komunikasi langsung dengan para korban, termasuk melalui panggilan video.
Peran itu ternyata menghasilkan bayaran yang tidak sedikit. Polisi menyebut penghasilannya bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan, bahkan dibayarkan dalam mata uang dolar Amerika. Besaran gaji yang diterima bergantung pada keberhasilan meyakinkan korban untuk mengirimkan uang.
Kisah ini menjadi gambaran bagaimana kejahatan digital modern bekerja. Para pelaku tidak lagi menggunakan ancaman atau kekerasan, melainkan menjual kepercayaan, perhatian, bahkan rasa cinta.
Modus yang dikenal sebagai “love scamming” atau “pig butchering” itu diawali dengan membangun hubungan emosional melalui media sosial, aplikasi kencan, maupun platform komunikasi digital lainnya. Setelah korban merasa nyaman dan percaya, mereka diarahkan untuk menanamkan dana pada platform investasi kripto yang telah direkayasa.
Korban yang sebagian besar berasal dari luar negeri sering kali tidak sadar sedang dijebak. Mereka merasa sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang tulus, padahal seluruh percakapan hanyalah bagian dari skenario penipuan yang sudah disusun rapi.
Polisi mengungkap, sindikat yang beroperasi di Solo Baru, Sukoharjo, itu diduga berhasil meraup keuntungan hingga sekitar Rp41 miliar dari lebih dari seratus korban dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa tekanan ekonomi sering kali membuat seseorang mengambil keputusan yang berisiko. Namun ketika jalan pintas dipilih tanpa mengetahui sepenuhnya konsekuensi hukum di belakangnya, hasil akhirnya bisa jauh lebih mahal daripada gaji yang dijanjikan.
Dari dunia hiburan ke ruang pemeriksaan polisi, perjalanan Fabiola kini menjadi salah satu kisah yang paling banyak diperbincangkan. Bukan lagi soal panggung, kamera, atau sorotan lampu studio, melainkan tentang bagaimana godaan cuan besar dapat menyeret seseorang ke pusaran kejahatan siber internasional.(*)
