Jakarta, katasulsel.com β€” Bukan hari balapan. Tidak ada bendera finis yang dikibarkan. Tidak ada selebrasi podium.

Namun, justru pada momen seperti itulah nama Veda Ega Pratama kembali mencuri perhatian.

Pembalap muda Indonesia itu kini naik ke posisi tiga klasemen sementara Moto3 2026. Sebuah lompatan yang memperlihatkan bahwa kejuaraan dunia tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling sering menang, melainkan siapa yang paling konsisten mengumpulkan peluang.

Ada sisi menarik dari kisah ini.

Veda tidak sedang menikmati musim yang sempurna. Ia masih berstatus rookie. Baru beberapa bulan lalu ia menjalani debut penuh di Moto3 bersama tim Honda Team Asia. Namun, ketika banyak pembalap muda tampil cepat lalu tenggelam karena inkonsistensi, Veda justru membangun pondasinya sedikit demi sedikit.

Posisi tiga klasemen itu lahir dari kombinasi kerja keras dan situasi yang tidak terduga.

Sejumlah rival yang sebelumnya berada di atasnya terkena sanksi dan kehilangan poin. Salah satunya Adrian Fernandez yang didiskualifikasi pada beberapa seri awal akibat pelanggaran teknis. Perubahan klasemen itu membuat Veda mendapatkan keuntungan besar tanpa harus menyalip siapa pun di lintasan.

Namun, keberuntungan saja tidak cukup.

Kalau Veda tidak memiliki tabungan poin yang kuat, posisinya tidak akan melonjak sejauh itu.

Pembalap asal Gunungkidul tersebut sebelumnya sudah menunjukkan kapasitasnya dengan merebut podium Moto3 dan beberapa kali finis di barisan depan. Bahkan pada GP Prancis ia mampu finis keempat saat menghadapi persaingan ketat pembalap-pembalap Eropa yang lebih berpengalaman.

Yang membuat kisah ini semakin menarik adalah usia Veda.

Saat banyak anak seusianya masih sibuk memikirkan sekolah dan media sosial, ia sedang bertarung melawan pembalap terbaik dunia di kelas Moto3. Perjalanannya dimulai dari lintasan-lintasan kecil di Yogyakarta hingga akhirnya mengenakan seragam Honda Team Asia di panggung Grand Prix.

Kini, targetnya bukan lagi sekadar menjadi pembalap Indonesia pertama yang tampil kompetitif.

Target itu sudah terlampaui.

Yang mulai terlihat di depan mata adalah peluang yang lebih besar: bertarung dalam perebutan gelar dunia.

Musim masih panjang. Banyak seri tersisa. Segala kemungkinan masih bisa terjadi.

Tetapi satu hal sudah pasti.

Moto3 2026 bukan lagi sekadar cerita tentang pembalap Indonesia yang ikut meramaikan persaingan.

Ini mulai berubah menjadi cerita tentang seorang anak bernama Veda Ega Pratama yang membuat dunia balap internasional terpaksa menoleh ke arah Indonesia. (*)