Tipue Sultan EDITOR
Redaktur Katasulsel.com yang mengawal isu publik dan dinamika pembangunan daerah.
Artikel: 384 Lihat semua

Sidrap, katasulsel.com — Konsep Kurikulum Berbasis Cinta yang belakangan menjadi sorotan di dunia pendidikan disebut bukan hal baru bagi madrasah. Bahkan, nilai-nilai yang diusung dalam kurikulum tersebut dinilai sudah lama menjadi “DNA” pendidikan madrasah.

Hal itu disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidenreng Rappang, Fitriadi, saat membuka Workshop Kurikulum Berbasis Cinta yang digelar di Perguruan DDI Amparita, Selasa (3/3/2026).

Dalam forum yang diikuti tenaga pendidik dari berbagai jenjang pendidikan—mulai dari RA, MI, MTs hingga MA—Fitriadi menegaskan bahwa madrasah sejak awal berdiri sudah mengedepankan nilai-nilai kasih sayang, keteladanan, hingga moderasi beragama dalam proses pendidikan.

“Madrasah sesungguhnya sudah lama menerapkan Kurikulum Cinta. Nilai akhlak, adab, toleransi, dan kasih sayang sudah menjadi bagian dari sistem pendidikan kita,” ujarnya.

Menurutnya, workshop tersebut menjadi momentum penting untuk melakukan “penyelarasan ulang” terhadap praktik-praktik baik yang selama ini telah berjalan di madrasah.

Fitriadi menjelaskan, pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan peserta didik bukan sekadar objek pembelajaran, melainkan subjek yang dihargai martabatnya. Dalam konsep ini, guru didorong membimbing siswa dengan keteladanan serta membangun lingkungan belajar yang lebih humanis.

Ia menilai pendekatan tersebut juga selaras dengan arah transformasi pendidikan yang kini menekankan pembentukan karakter, integritas, dan empati sosial.

“Peserta didik dibimbing untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat, berintegritas, sekaligus memiliki kepedulian terhadap sesama,” jelasnya.

Workshop ini juga menjadi ruang diskusi bagi para guru untuk memperdalam implementasi kurikulum berbasis nilai kasih sayang, baik dalam kegiatan belajar di kelas maupun dalam budaya madrasah sehari-hari.

Sejumlah materi yang dibahas dalam forum tersebut antara lain strategi pembelajaran yang ramah siswa, penguatan budaya madrasah inklusif, hingga metode pendidikan karakter berbasis keteladanan.

Melalui kegiatan ini, Kemenag Sidrap berharap madrasah dapat semakin memperkuat perannya sebagai ruang pendidikan yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pembentukan akhlak dan nilai kemanusiaan.(*)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.