Makassar, Katasulsel.com — Makassar. Kota besar. Rp177,34 juta per kapita. Angka yang bikin decak. Pasar ramai. Jalan padat. Pelabuhan sibuk. Ekonomi bergerak, tidak tidur, tidak diam.
Lalu, Pangkep atau Pangkajene dan Kepulauan. Rp104,7 juta per kapita. Mesin ekonomi jalan. Pedagang tersenyum. Kapal berlayar. Pabrik beroperasi. Aktivitas nyata, angka bicara.
Bu Rina, pedagang pasar di Makassar, bilang: “Orang ramai, dagangan laku, senang. Kota maju, kita ikut maju,” Jumat, 3 Aprl 2026.
Pak Amin, nelayan Pangkep, tersenyum: “Perkapita kita naik. Pekerjaan jalan. Ekonomi mulai terdengar,” ujarnya di hari yang sama.
Kalau dilihat, PDRB Makassar ini jelas memimpin, dan Pangkep mengejar.
Tapi Pangkep bukan sekadar pendamping. Ini penantang serius. Angka bicara: “Kami punya ritme, kami punya peluang, kami ikut menentukan.”
UMKM tumbuh. Jalan masuk kampung diperbaiki. Pasar digital mulai bergerak. Peluang terbuka. Rakyat merasakan. Investor menimbang. Pedagang tersenyum. Kota bergerak. Kabupaten ikut. Provinsi menatap.
Mahasiswa di Makassar bilang: “Ekonomi jalan, hidup terasa. Kota ini bikin kita ikut bergerak.”
Nelayan di Pangkep: “Mesin ekonomi hidup. Kita dapat bagian. Hidup lebih mudah.”
Makassar. Pangkep. Dua poros. Dua denyut. Dua cerita. Dua mesin ekonomi Sulsel. Angka besar, aktivitas nyata. Peluang terbuka. Tantangan menanti. Tapi jelas, dua daerah ini menulis cerita provinsi.
Makassar jalan terus. Pangkep mengejar. Sulsel menatap.(*)


