Jakarta, Katasulsel.com — Ruang VIP Masjid Istiqlal siang itu tidak sekadar jadi tempat diskusi. Ada peluncuran buku. Tapi yang lebih terasa, ada upaya membingkai ulang sosok seorang menteri—dari sisi yang jarang disentuh.
Judulnya “Teladan Sang Menteri”.
Buku ini mengupas figur Nasaruddin Umar. Bukan hanya sebagai pejabat. Tapi sebagai ulama, akademisi, sekaligus pemikir.
Peluncuran ditandai sederhana. Penandatanganan mockup sampul. Penyerahan simbolis. Tapi maknanya dalam.
Kegiatan ini merupakan bagian dari forum kaderisasi ulama yang digagas Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal. Forum yang memang dirancang untuk melahirkan pemikir-pemikir keislaman dengan perspektif luas.
Dalam forum itu, Nasaruddin tidak bicara ringan. Ia membuka sisi personal. Tentang kebiasaan membaca. Menulis. Merenung. Bahkan dengan waktu istirahat yang minim.
Sebuah gambaran tentang proses. Bukan hasil instan.
Akar intelektualnya ditarik jauh ke belakang. Ke tradisi pesantren. Ke dunia tasawuf. Dari situlah cara pandangnya terbentuk—menggabungkan nalar dan rasa, teks dan konteks.
Buku ini ditulis oleh tim akademisi dari UIN Ar-Raniry. Nama-nama seperti Mujiburrahman hingga Reza Idria ikut menyusun narasi.
Pendekatannya tidak kaku. Tidak sekadar kronologi. Tapi reflektif.
Di bagian awal, pembaca diajak melihat akar sosial Nasaruddin Umar. Ia tumbuh di Bone. Lingkungan religius. Disiplin kuat. Nilai Bugis seperti siri’ na pacce ikut membentuk karakter.
Dari situ, perjalanan intelektualnya bergerak ke Jakarta. Menempuh pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hingga akhirnya menjadi profesor.
Yang menarik, buku ini tidak berhenti pada cerita hidup. Tapi masuk ke gagasan.
Salah satu yang disorot: moderasi beragama. Sebuah konsep yang kini jadi arus utama, tapi dalam buku ini ditarik ke akar pemikiran Nasaruddin. Tentang dialog. Tentang inklusivitas. Tentang menjaga keberagaman.
Ada juga pendekatan teo-sofi dalam memahami Al-Qur’an. Menggabungkan dimensi teologis dan filosofis. Membuat tafsir tidak berhenti di teks.
Isu lingkungan ikut masuk. Lewat konsep eko-teologi. Mengaitkan tauhid dengan tanggung jawab menjaga alam. Dari sini lahir gagasan eco-masjid.
Di bidang pendidikan, muncul konsep “kurikulum cinta”. Sebuah pendekatan yang menempatkan kasih sayang sebagai dasar pembelajaran. Tidak hanya transfer ilmu, tapi pembentukan karakter.
Buku ini juga menyorot gaya kepemimpinan. Humanis. Religius. Tapi tetap adaptif dengan dinamika zaman.
Sejumlah tokoh hadir dalam peluncuran. Dari jajaran kementerian hingga akademisi. Termasuk perwakilan Bank Syariah Indonesia dan pengelola beasiswa negara seperti LPDP.
Ini bukan sekadar peluncuran buku.
Ini upaya merawat narasi tentang kepemimpinan—bahwa jabatan bisa berjalan seiring dengan kedalaman intelektual dan spiritual.
Dan dari Istiqlal, cerita itu mulai disebarkan.(*)


