GOWA, Katasulsel.com — Pagi itu, lumpur sawah bukan sekadar tanah basah. Di Desa Bontoramba, Kecamatan Pallangga, ia menjadi simbol arah baru pertanian Gowa.

Sitti Husniah Talenrang turun langsung. Menanam padi. Bukan seremoni. Tapi pesan.

Bahwa swasembada pangan tidak lahir dari rapat, tapi dari kerja di lapangan.

“Gowa ini penopang pertanian Sulsel. Kita tidak boleh berhenti,” katanya. Singkat, tapi tegas.

Program Cetak Sawah Rakyat (CSR) menjadi andalan. Lahan-lahan yang dulu tidur, kini dibuka. Disiapkan. Ditanam.

Bukan hanya soal luas. Tapi soal arah.

Targetnya jelas: produksi naik, petani sejahtera.

Di Gowa, CSR sudah menyentuh sekitar 40 hektare di Pallangga dan Parangloe. Dari lahan itu, produksi diproyeksi 5–6 ton per hektare. Artinya, ada tambahan ribuan ton gabah setiap musim tanam.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Zubair Usman, menyebut ini langkah konkret.

“Ini bukan sekadar program. Ini jawaban atas kebutuhan pangan yang terus meningkat,” ujarnya.

Namun Bupati Husniah tidak berhenti di lahan. Ia menyentuh persoalan yang sering luput: alat.

Menurutnya, petani tidak bisa terus bergantung pada sistem pinjam pakai. Mereka harus punya alat sendiri.

“Kalau punya sendiri, semangatnya beda,” katanya.

Dari traktor hingga pompa air, dari benih unggul hingga sistem brigade pangan—semua mulai disusun sebagai satu ekosistem.

Di sisi lain, dukungan pusat terus mengalir. Direktur di Kementerian Pertanian, Dede Sulaiman, memastikan program ini bukan sementara.

Ada dua jalur yang digenjot: ekstensifikasi lewat cetak sawah, dan intensifikasi lewat optimasi lahan.

Di Sulawesi Selatan saja, potensi optimasi lahan hampir menyentuh 60 ribu hektare.

Artinya, peluang masih terbuka lebar.

Gowa hanya perlu menjaga ritme.

Karena di tengah ancaman krisis pangan global, satu hal menjadi jelas:

Daerah yang siap bertani, akan lebih siap bertahan. (*)

Gambar berita Katasulsel