GOWA, katasulsel.com — Reuni sering dianggap sekadar temu kangen. Tapi di SMA Negeri 3 Gowa, ceritanya sedikit berbeda. Yang kembali bukan hanya orangnya, tapi juga jejak hidup yang pernah dibentuk di sana.
Lapangan sekolah di Kecamatan Bontonompo, Minggu (19/4/2026), jadi titik temu. Dari berbagai angkatan, alumni datang dengan cerita masing-masing. Ada yang sudah jadi pejabat, profesional, hingga pelaku usaha.
Di antara mereka, hadir Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang. Tapi di forum itu, ia bukan sekadar kepala daerah. Ia bagian dari cerita besar yang sama: alumni.
“Dari sekolah sederhana inilah lahir pribadi-pribadi luar biasa,” ujarnya.
Kalimat itu seperti merangkum suasana. Bahwa sekolah ini mungkin tidak megah, tapi punya peran besar dalam membentuk karakter.
Yang menarik, reuni kali ini tidak berhenti di nostalgia. Tema yang diangkat, “Jejak yang Tak Pernah Hilang”, terasa relevan. Karena yang dibicarakan bukan hanya masa lalu, tapi bagaimana masa lalu itu masih hidup sampai hari ini.
Bupati Husniah menyinggung nilai siri’ na pacce—konsep khas Bugis-Makassar yang bicara soal harga diri dan kepedulian. Bagi dia, nilai ini bukan sekadar budaya, tapi fondasi yang dibawa alumni ke kehidupan masing-masing.
Sementara itu, Ketua IKA SMAN 3 Gowa, Asriady Arasy, menyebut reuni ini sebagai “perjalanan pulang”.
Bukan pulang ke tempat, tapi ke akar.
“Kita kembali ke rumah yang membentuk kita,” katanya.
Namun, ada satu penekanan penting: reuni tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Harus ada lanjutan. Harus ada kontribusi.
“Ini bukan akhir, tapi awal untuk memberi kembali,” tegasnya.
Di sinilah sisi uniknya. Reuni ini tidak hanya merawat kenangan, tapi juga mendorong tanggung jawab sosial alumni terhadap almamater.
Sekolah yang berdiri sejak 1989 itu kini sudah melewati banyak fase. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Gowa, Firdaus, menyebut perjalanan panjang itu telah melahirkan banyak alumni berkualitas.
Ia bahkan menyentil sisi emosional masa SMA—tentang persahabatan, keterbatasan, hingga cerita-cerita yang sulit dilupakan.
“Tapi sekarang saatnya berbagi dalam keberhasilan,” ujarnya.
Acara pun dibuat lebih hidup. Ada gerak jalan, ada undian hadiah. Bahkan Bupati Gowa ikut menyerahkan hadiah berupa kulkas dan sepeda.
Namun di balik semua itu, ada satu benang merah yang terasa kuat: ikatan yang tidak putus oleh waktu.
Karena bagi para alumni, sekolah ini bukan sekadar tempat belajar.
Tapi tempat di mana cerita hidup dimulai. (tp)
