SERANG — Dari Desa Parippung, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, kisah haru sekaligus membanggakan datang dari keluarga petani sederhana. Pasangan Renreng dan Saripa, yang sehari-hari bergantung pada hasil sawah, kini resmi menyaksikan putra sulung mereka, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., meraih gelar Doktor Ilmu Akuntansi pada Wisuda Gelombang II Tahun 2026 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Sabtu (23/5/2026).

Di balik toga doktor yang dikenakan Aras di Auditorium Kampus Sindangsari Untirta, tersimpan perjalanan panjang dari ruang kelas sederhana di Bone hingga ruang ujian akademik tertinggi. Ia menempuh pendidikan S1 Akuntansi di Universitas Muslim Indonesia, lanjut S2 Magister Akuntansi di Universitas Mercu Buana, hingga akhirnya menyelesaikan program doktoral di Untirta.

Yang menarik, Aras kini dipercaya sebagai Kaprodi Akuntansi di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Sementara adiknya, Muhammad Asdar Prabowo, juga sedang menempuh Magister Pertahanan Semesta di Universitas Pertahanan dengan beasiswa penuh.

Di tengah capaian akademik itu, suasana haru paling terasa datang dari orang tua. Renreng, sang ayah, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya meski hidup mereka jauh dari kata berkecukupan.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

“Kami ini petani. Kadang hasil panen tidak cukup. Tapi saya selalu bilang, jangan berhenti sekolah,” ucapnya dengan suara bergetar.

Ibunya, Saripa, juga hanya bisa bersyukur melihat anaknya sampai di jenjang tertinggi pendidikan akademik.

“Kami orang kampung, tidak pernah bayangkan anak bisa jadi doktor,” katanya lirih.

Perjalanan panjang Aras juga tidak dilewati sendiri. Sang isteri, Sutanti Idris, S.E., CMC., menjadi bagian penting dalam proses penyelesaian studi doktoralnya yang penuh tekanan akademik, mulai dari penyusunan proposal, penelitian lapangan, hingga ujian disertasi.

“Banyak malam dia habiskan untuk membaca dan menulis. Itu bukan proses yang mudah,” ungkap Sutanti.

Di dunia akademik akuntansi, Aras dikenal mengangkat kajian yang tidak biasa, yakni pendekatan akuntansi berbasis budaya Bugis, termasuk konsep teseng yang sebelumnya ia bahas dalam disertasinya. Dalam dunia ilmu akuntansi modern, pendekatan ini membuka ruang baru pada kajian akuntansi sosial dan akuntabilitas berbasis nilai lokal (local wisdom-based accountability).

Menariknya, dalam sidang promosi doktor tersebut, hadir sebagai penguji eksternal Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A, yang memberikan apresiasi atas gagasan tersebut. Ia menilai konsep itu dapat memperkaya kajian good governance dengan pendekatan budaya dan spiritualitas.

……………….

Usai wisuda, Aras menegaskan bahwa gelar doktor ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi representasi perjuangan keluarga petani di kampung halamannya.

“Saya lahir dari keluarga petani miskin. Gelar ini saya persembahkan untuk orang tua, isteri, dan anak-anak saya. Ini bukti bahwa anak desa juga bisa sampai doktor,” ujarnya.

Kini, kisah dari sawah Parippung Bone itu menjadi potret nyata bahwa dalam dunia pendidikan tinggi, latar belakang bukan batas akhir, melainkan titik awal dari perjalanan panjang menuju puncak ilmu pengetahuan. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita