Sidrap, katasulsel.com — Namanya Fitriani, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik FISIP Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang. Dari kampus daerah, ia berhasil bikin capaian yang tidak semua mahasiswa bisa tembus: publikasi ilmiah di jurnal nasional SINTA 2.
Fitriani menulis penelitian tentang hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari tapi sering dianggap sepele: kasus pelecehan seksual terhadap perempuan.
Judul penelitiannya yakni “Implementasi Kebijakan Pencegahan dan Penanganan Pelecehan Seksual Terhadap Perempuan di Kabupaten Sidenreng Rappang” yang dimuat di jurnal Women, Education, and Social Welfare.
Dalam penelitiannya, Fitriani melihat langsung bagaimana aturan pemerintah soal perlindungan perempuan dijalankan di lapangan, apakah sudah jalan dengan baik atau masih banyak yang mandek.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
“Masih sering terjadi di sekitar kita, jadi saya ingin angkat supaya orang lebih peduli. Bukan cuma jadi tugas kampus, tapi juga bisa bermanfaat,” kata Fitriani.
Ia juga mengaku, proses sampai bisa tembus jurnal tidak mudah. Mulai dari revisi berkali-kali sampai harus betul-betul sabar memperbaiki tulisan.
“Saya banyak dibimbing sama dosen. Kalau tidak diarahkan, mungkin tidak sampai terbit,” ujarnya.
Dua dosen yang mendampinginya adalah Dr. Erfina dan Prof. Dr. Muliani S. Menurut Fitriani, mereka sangat berperan dalam membentuk cara berpikir dan cara menulis ilmiahnya.
Tidak berhenti di situ, Fitriani juga sudah punya dua artikel lain di SINTA 3. Salah satunya soal perubahan layanan pemerintah ke arah digital, dan satu lagi soal pencegahan kekerasan seksual di kampus.
Kalau dihitung, sampai sekarang Fitriani sudah menulis 8 artikel ilmiah. Sebagian sudah terbit, sebagian masih proses.
Di dunia kampus, ini bukan hal biasa untuk mahasiswa S1. Biasanya, tulisan ilmiah baru ramai di level S2 atau dosen. Tapi Fitriani sudah mulai dari bangku kuliah.
Kisahnya menunjukkan satu hal sederhana: mahasiswa dari daerah pun bisa bersaing, asal mau serius belajar dan tidak gampang menyerah dengan proses panjang dunia penelitian.
Dari Sidrap, Fitriani membuktikan bahwa tulisan ilmiah tidak harus lahir dari kampus besar, tapi dari kemauan untuk terus menulis dan peduli pada masalah di sekitar. (*)
