JAKARTA — Nama Veda Ega Pratama mendadak jadi bahan pembicaraan di paddock Moto3 2026. Pembalap muda Indonesia itu langsung tancap gas di seri pembuka Sirkuit Chang, Thailand, dan finis di posisi 5 besar. Di dunia balap, ini biasa disebut “rookie shock result”—pendatang baru yang langsung bikin kaget lawan-lawan senior.
Sejak start, Veda sudah terlihat berani ambil posisi. Beberapa kali ia terlibat duel rapat yang dalam istilah balap disebut close racing pack, saling salip di kecepatan tinggi dengan jarak sangat tipis. Hingga akhirnya, ia mengunci posisi lima dan membawa pulang poin penting di awal musim.
Yang langsung bikin ramai bukan hanya hasil balapnya, tapi juga satu topik yang selalu jadi “gosip paddock”: nilai kontrak dan penghasilan.
Veda disebut masuk Honda Team Asia lewat jalur prestasi, bukan sebagai pembalap “bawa sponsor sendiri”. Dalam istilah Moto3, ini disebut factory supported rider, di mana semua biaya balap ditanggung pabrikan, mulai dari motor, mekanik, sampai logistik.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Soal gaji, meski tidak pernah diumumkan resmi, rumor paddock menyebut angka rookie Moto3 ada di kisaran 40 ribu euro per musim atau sekitar Rp670–700 juta. Tapi di dunia balap, angka itu baru “uang dasar”.
Yang bikin menarik adalah sistem bonus. Setiap poin dan posisi finis punya nilai tambahan. Dalam istilah tim, ini disebut performance bonus system. Finis 5 besar di Thailand otomatis membuat nilai Veda ikut naik sejak seri pertama.
Di paddock, ada kalimat yang sering terdengar: “kalau sering di depan kamera, nilai kontrak ikut jalan.” Dan itu mulai berlaku untuk Veda. Beberapa sponsor disebut mulai masuk radar, karena Veda dianggap punya kombinasi penting: cepat di lintasan dan kuat secara branding.
Di balik layar, Astra Honda Racing Team disebut menggelontorkan investasi besar untuk pembinaan Veda. Dalam dunia balap, ini disebut long term rider investment—modal besar untuk mencetak calon pembalap MotoGP masa depan.
Namun Moto3 dikenal sebagai kelas paling brutal di balap Grand Prix. Bukan soal siapa paling kuat, tapi siapa paling tahan dalam slipstream war dan “kereta” rombongan yang jaraknya hanya hitungan detik.
Seri berikutnya di Brasil pada Maret 2026 kini jadi sorotan. Jika Veda kembali masuk barisan depan, maka bukan hanya poin yang naik—tapi satu hal yang paling sensitif di dunia balap juga ikut bergerak: nilai dirinya di pasar pembalap dunia. (*)
