Keyakinan tersebut sejalan dengan berbagai program yang tengah berjalan di sektor pertanian Sidrap.
Mulai dari percepatan indeks pertanaman, penguatan infrastruktur irigasi, hingga berbagai langkah modernisasi pertanian yang terus didorong pemerintah daerah.
Selama ini, Sidrap dikenal bukan sekadar lumbung padi Sulawesi Selatan. Daerah ini juga menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan regional dengan ribuan hektare lahan produktif yang aktif berproduksi sepanjang tahun.
Karena itu, angka 6,88 persen pada Triwulan I lebih tepat dibaca sebagai jeda statistik daripada perlambatan ekonomi.
Di balik angka tersebut, masih ada hasil panen yang belum masuk pembukuan. Masih ada produksi yang belum tercatat. Dan masih ada efek positif dari perbaikan irigasi yang baru akan terlihat pada periode berikutnya.
Jika prediksi pemerintah daerah tepat, maka Triwulan II akan menjadi panggung bagi Sidrap untuk kembali menunjukkan identitasnya sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi berbasis pertanian terkuat di Sulawesi Selatan.
Sebab di daerah yang hidup dari sawah, musim panen sering kali datang lebih lambat dari laporan statistik. Namun ketika tiba, dampaknya mampu mengubah seluruh peta pertumbuhan. (*)
