Perbaikan tersebut memang diperlukan untuk menjamin produktivitas pertanian jangka panjang. Namun di sisi lain, prosesnya sempat memengaruhi pola tanam dan jadwal panen petani.

Akibatnya, sebagian produksi bergeser waktunya dan belum masuk dalam perhitungan statistik Triwulan I.

Bagi daerah yang mengandalkan pertanian sebagai mesin ekonomi utama, pergeseran waktu panen sekecil apa pun dapat memengaruhi angka pertumbuhan yang tercatat.

Meski demikian, Syaharuddin menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan pertanda perlambatan ekonomi.

Sebaliknya, ia melihatnya sebagai potensi yang masih tersimpan dan akan muncul pada triwulan berikutnya.

Panen yang belum tercatat dipastikan akan masuk dalam perhitungan Triwulan II. Sementara jaringan irigasi yang kini telah selesai diperbaiki diproyeksikan kembali mendukung peningkatan produksi di berbagai sentra pertanian.

Optimisme itu bukan tanpa dasar.

Tahun lalu, Sidrap juga sempat menghadapi situasi serupa. Pada awal tahun, pertumbuhan ekonomi belum terlalu mencolok. Namun memasuki triwulan berikutnya, laju ekonomi bergerak cepat hingga akhirnya menempatkan Sidrap sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Selatan secara tahunan.

Pengalaman itu menjadi referensi penting bagi pemerintah daerah.

“Tahun lalu juga begitu. Triwulan pertama belum terlalu tinggi, tetapi setelah itu kita melaju dan akhirnya menjadi yang tertinggi di Sulsel. Saya yakin tahun ini juga demikian,” ujar Syaharuddin.