Sidrap, Katasulsel.com — Di hamparan sawah tadah hujan Desa Rijang Panua, Kecamatan Kulo, suara gemericik air kini terdengar seperti kabar baik yang lama ditunggu petani. Selasa pagi, 12 Mei 2026, Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, berdiri di tepi sumur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) sambil menyaksikan air menyembur ke saluran sawah.
Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar peresmian proyek. Tapi bagi petani tadah hujan di Kulo, air yang mengalir itu terasa seperti “emas cair”. Sudah terlalu lama mereka berjudi dengan musim.
Program JIAT Instruksi Presiden (Inpres) yang dibangun BBWS Pompengan Jeneberang bukan hanya menghadirkan sumur bor dan pipa pengairan. Ia membawa harapan baru: sawah yang dulu hanya mengandalkan langit, kini mulai punya kepastian hidup.
“Persoalan utama petani kita itu air. Kalau air ada, petani bisa tenang,” kata Syaharuddin, usai uji pengaliran JIAT yang dirangkaikan dengan serah terima fasilitas dari BBWS kepada Pemerintah Kabupaten Sidrap.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Di Sidrap, air memang bukan sekadar kebutuhan. Ia penentu nasib. Ketika musim kemarau memanjang, sawah tadah hujan kerap berubah menjadi hamparan retak-retak. Petani hanya bisa menunggu hujan turun sambil berharap gagal panen tidak datang lebih dulu.
Karena itu, delapan unit JIAT yang tersebar di Sidrap disebut Syaharuddin sebagai “jalan keluar konkret” bagi petani.
Namun, Bupati Sidrap itu rupanya tidak ingin berhenti pada urusan air semata. Ia langsung memancang target tinggi: program IP300 atau tiga kali tanam setahun harus berjalan.
Targetnya pun tidak main-main. Produktivitas padi didorong mencapai 10 ton per hektare.
“Kalau air tersedia, benih seragam, dan pola tanam kompak, saya kira target itu bisa dicapai,” ujarnya.
Di titik inilah Sidrap tampak sedang memainkan “politik pangan”-nya sendiri. Daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung beras Sulawesi Selatan itu ingin menjaga reputasinya tetap hijau di tengah ancaman perubahan iklim dan ketidakpastian musim.
Menariknya, dalam dialog bersama petani, Syaharuddin tidak hanya bicara soal produksi. Ia juga menyentuh urusan yang paling sensitif di kalangan petani: harga gabah.
Saat ini harga gabah berada di kisaran Rp7.300 hingga Rp7.500 per kilogram. Angka yang cukup membuat petani tersenyum, meski belum sepenuhnya lega.
“Kalau panen bagus tapi harga jatuh, petani juga susah. Jadi dua-duanya harus dijaga,” tutur seorang petani di lokasi kegiatan.
Syaharuddin pun menegaskan pemerintah daerah akan terus memantau stabilitas harga agar petani tetap menikmati hasil kerja mereka sendiri.
“Kesejahteraan petani akan terus kami perjuangkan,” katanya.
Sementara itu, PPK Pendayagunaan Air Tanah BBWS Pompengan Jeneberang, Trisno Widodo, menjelaskan pembangunan sumur JIAT memang diprioritaskan untuk wilayah tadah hujan yang selama ini rentan kekeringan.
Menurutnya, kehadiran irigasi air tanah diharapkan mampu mengubah pola produksi pertanian desa dan memperkuat ekonomi masyarakat.
Acara kemudian ditutup dengan peninjauan langsung sumur JIAT oleh bupati bersama rombongan. Di tepi sawah itu, diskusi berlangsung santai. Petani menyampaikan keluhan, pemerintah mendengar, dan air terus mengalir.
Kadang, pembangunan memang tidak selalu hadir dalam bentuk gedung megah. Di Desa Rijang Panua, ia hadir lewat air yang akhirnya sampai ke sawah. (*)
Update terbaru: 12 Mei 2026 15:54 WIB
