Sidrap, katasulsel.com — Di Kabupaten Sidenreng Rappang, petani selama ini punya satu kebiasaan yang tidak pernah berubah: sering menengadah ke langit.

Bukan untuk menikmati awan.

Tapi menunggu hujan.

Sebab bagi ribuan hektare sawah tadah hujan di Sidrap, air selalu menjadi “nasib”. Kalau hujan datang tepat waktu, petani bisa tersenyum. Kalau musim bergeser sedikit saja, panen ikut gelisah.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Karena itu, Selasa siang di Desa Rijang Panua, Kecamatan Kulo, terasa berbeda.

Ada suara air yang mengalir.

Dan bagi petani, itu lebih menenangkan daripada pidato panjang.

Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, meresmikan sekaligus melakukan uji pengaliran Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) Program Inpres—program yang diharapkan menjadi jawaban atas persoalan klasik pertanian Sidrap: kekurangan air.

Peresmian itu sekaligus dirangkaikan dengan serah terima fasilitas dari BBWS Pompengan Jeneberang kepada Pemerintah Kabupaten Sidrap.

Tetapi yang paling menarik bukan seremoni gunting pita atau formalitas acaranya.

Yang paling terasa justru optimisme baru yang mulai muncul di wajah petani.

Karena untuk pertama kalinya, sawah tadah hujan di beberapa titik Sidrap mulai tidak sepenuhnya bergantung pada langit.

Sidrap Sedang Mencoba Mengubah Takdir Sawah Tadah Hujan

Di banyak daerah, irigasi mungkin dianggap proyek biasa.

Namun di Sidrap, air adalah urusan serius.

Selanjutnya……………

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.

Update terbaru: 12 Mei 2026 16:35 WIB