Daerah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan. Tetapi sebagian wilayah pertaniannya masih bertumpu pada pola tadah hujan.

Akibatnya, ritme tanam petani sering tidak stabil.

Kalau musim kemarau datang lebih panjang, sawah bisa berubah jadi tanah retak-retak. Petani terpaksa menunda tanam. Bahkan kadang memilih pasrah.

Karena itulah pembangunan delapan unit JIAT di Sidrap dianggap bukan sekadar proyek teknis.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Ia seperti β€œmesin kehidupan baru” bagi sawah-sawah yang selama ini hidup dari ketidakpastian cuaca.

β€œProgram ini sangat bermanfaat karena persoalan air yang selama ini menjadi kendala utama petani kini mulai teratasi,” kata Syaharuddin.

Kalimat itu sederhana.

Tapi bagi petani tadah hujan, air memang sering lebih penting daripada pupuk.

Begitu Air Ada, Bupati Langsung Pasang Target Tinggi

Menariknya, Syaharuddin tidak berhenti pada urusan pengairan saja.

Begitu air mulai tersedia, ia langsung memasang target ambisius: produktivitas gabah 10 ton per hektare.

Target itu bukan angka kecil.

Selanjutnya……………

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.

Update terbaru: 12 Mei 2026 16:35 WIB