Daerah ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sulawesi Selatan. Tetapi sebagian wilayah pertaniannya masih bertumpu pada pola tadah hujan.

Akibatnya, ritme tanam petani sering tidak stabil.

Kalau musim kemarau datang lebih panjang, sawah bisa berubah jadi tanah retak-retak. Petani terpaksa menunda tanam. Bahkan kadang memilih pasrah.

Karena itulah pembangunan delapan unit JIAT di Sidrap dianggap bukan sekadar proyek teknis.

Ia seperti “mesin kehidupan baru” bagi sawah-sawah yang selama ini hidup dari ketidakpastian cuaca.

“Program ini sangat bermanfaat karena persoalan air yang selama ini menjadi kendala utama petani kini mulai teratasi,” kata Syaharuddin.

Kalimat itu sederhana.

Tapi bagi petani tadah hujan, air memang sering lebih penting daripada pupuk.

Begitu Air Ada, Bupati Langsung Pasang Target Tinggi

Menariknya, Syaharuddin tidak berhenti pada urusan pengairan saja.

Begitu air mulai tersedia, ia langsung memasang target ambisius: produktivitas gabah 10 ton per hektare.

Target itu bukan angka kecil.

Selanjutnya……………