Uang dari Indonesia?

Tidak banyak.

Dalam setahun, ayahnya hanya memberi sekitar 250 dolar.

Selebihnya?

Cari sendiri.

Di umur 16 tahun.

Di Kansas.

Jauh dari Surabaya.

Di situlah A.A. mulai belajar sesuatu yang tidak ada di buku pelajaran.

Mandiri.

Bukan teori mandiri.

Mandiri betulan.

Kalau ingin punya uang, bekerja.

Kalau ingin dimengerti, bicara.

Kalau punya masalah, cari jalan keluar.

Kalau salah, perbaiki.

Dan pelajaran paling penting:

tidak semua hal dalam hidup harus berjalan sesuai urutan yang dibuat orang lain.

Setahun berlalu.

A.A. seharusnya mengikuti jalur yang biasa.

SMA.

Lulus.

Dapat ijazah.

Kuliah.

Begitu urutannya.

Tetapi John Mohn melihat ada jalan lain.

Sebuah pilihan pendidikan yang tidak biasa.

A.A. mengikuti pilihan itu.

Dan sejak saat itulah jalur pendidikannya berubah.

Ia tidak kembali menjalani SMA seperti anak-anak Indonesia pada umumnya.

Ijazah SMA pun akhirnya tidak pernah dimilikinya.

Kalau cerita berhenti sampai di situ, mungkin terdengar seperti kisah tentang anak yang tidak lulus sekolah.

Padahal bukan itu ceritanya.

Ini cerita tentang seorang anak yang menemukan bahwa belajar tidak selalu berarti duduk di ruang kelas.

Ia belajar dari keluarga angkat.

Belajar dari koran.

Belajar dari pekerjaan.

Belajar dari budaya yang berbeda.

Belajar dari hidup sendirian.

Dan belajar mengambil keputusan.

Nilai ujian bisa hilang dari ingatan.

Pengalaman hidup biasanya tidak.

Dulu, ada guru yang pernah menulis satu kata di kertas ujiannya.

ā€œMadesu.ā€

Masa depan suram.

Mungkin gurunya tidak serius.

Mungkin hanya sindiran agar muridnya belajar lebih sungguh-sungguh.

Tetapi hidup punya cara sendiri untuk membalas sebuah ramalan.

Anak yang pernah diberi label ā€œmasa depan suramā€ itu justru menemukan masa depannya.

Bukan lewat jalan yang lurus.

Melainkan lewat jalan yang berbelok.

Jauh.

Sampai Kansas.

Tentu kisah A.A. bukan berarti sekolah tidak penting.

Justru sebaliknya.

Pendidikan tetap penting.

Ijazah tetap penting.

Bagi banyak orang, pendidikan formal adalah jalan utama menuju masa depan.

Tetapi kehidupan tidak selalu menyediakan jalan yang sama untuk semua orang.

Ada yang lurus.

Ada yang berputar.

Ada yang mulus.

Ada yang penuh lubang.

Yang penting bukan sekadar jalannya.

Bersambung….