Gowa, katasulsel.com β Ada satu hal yang tidak pernah diajarkan ketika seseorang dilantik menjadi bupati: bagaimana rasanya ketika jabatan itu harus ditinggalkan.
Saat dilantik, ada seremoni. Ada ucapan selamat. Ada tangan-tangan yang dijabat. Ada harapan yang dititipkan. Nama disebut dengan gelar baru: Bupati.
Lalu waktu berjalan.
Hari-hari dipenuhi urusan pemerintahan. Telepon berdering. Tamu datang silih berganti. Rapat menunggu. Keputusan harus dibuat. Di luar kantor, masyarakat menanti hasil kerja.
Begitulah kehidupan seorang kepala daerah. Setidaknya, begitulah gambaran yang melekat pada sebuah jabatan.
Tetapi, siapa yang pernah benar-benar menyiapkan diri untuk hari ketika semuanya berubah?
Sitti Husniah Talenrang kini berada di titik itu.
Kementerian Dalam Negeri telah memberhentikannya sebagai Bupati Gowa, Sulawesi Selatan. Jabatan yang pernah menjadi pusat tanggung jawabnya kini tidak lagi ia emban.
Lalu, apa yang akan dilakukannya?
Jawaban Husniah justru tidak panjang.
Ia memilih fokus kepada keluarga. Ia juga menyatakan tidak akan melakukan upaya untuk merespons keputusan pemberhentian tersebut.
Sederhana sekali jawabannya.
Tetapi, kadang-kadang, hidup memang tidak selalu membutuhkan kalimat panjang untuk menjelaskan sebuah perubahan besar.
Coba bayangkan sebuah hari tanpa agenda pemerintahan.
Tidak ada rapat yang harus dihadiri karena jabatan. Tidak ada berkas yang menunggu tanda tangan sebagai bupati. Tidak ada urusan kantor yang datang silih berganti atas nama kewenangan kepala daerah.
Tentu, kita tidak tahu bagaimana hari-hari Husniah sesungguhnya sekarang. Kita tidak tahu apa yang ia pikirkan ketika bangun pagi, atau bagaimana suasana di rumahnya. Tidak adil kalau kita mengarang kesedihan yang tidak pernah ia ceritakan.
Namun, ada satu kenyataan yang bisa dipahami siapa saja.
Ketika jabatan berakhir, rutinitas ikut berubah.
Orang yang kemarin dikenal sebagai kepala daerah harus menjalani babak kehidupan yang berbeda. Sebagian urusan yang dahulu menjadi tanggung jawabnya kini berpindah kepada orang lain.
Dan di tengah perubahan itu, Husniah mengatakan ingin lebih fokus kepada keluarga.
Keluarga. Kata yang terdengar biasa. Bahkan terlalu biasa untuk menjadi berita besar.
Tetapi, bukankah dalam kehidupan banyak orang, keluarga justru menjadi tempat seseorang kembali setelah urusan di luar rumah selesai?
Bedanya, bagi seorang pejabat yang sedang menghadapi perubahan besar, jalan untuk kembali ke kehidupan pribadi mungkin tidak sesederhana kalimat itu.
Sorotan publik masih ada. Persoalan yang mengiringi jabatan belum tentu selesai. Nama yang sudah telanjur menjadi perhatian masyarakat tidak bisa begitu saja keluar dari pembicaraan.
Husniah boleh berhenti menjadi bupati. Tetapi ia tidak otomatis berhenti menjadi bahan perhatian publik.
Jabatan Itu Tidak Berakhir dalam Cerita yang Sederhana
Pemberhentian Husniah bukan peristiwa yang berdiri sendiri.
Sebelumnya, DPRD Kabupaten Gowa membentuk panitia khusus untuk mendalami sejumlah dugaan pelanggaran. Proses tersebut berlanjut melalui mekanisme politik dan hukum, termasuk proses di Mahkamah Agung, sebelum ditindaklanjuti oleh Kemendagri.
Sejumlah persoalan ikut menjadi perhatian, mulai dari dugaan perbuatan tercela terkait isu hubungan pribadi, dugaan korupsi dalam pengadaan seragam sekolah gratis tahun anggaran 2025 yang disebut bernilai sekitar Rp16 miliar, hingga dugaan penyalahgunaan wewenang terkait pencabutan bantuan beasiswa doktoral seorang mahasiswi.
Di luar itu, terdapat laporan mengenai penetapan Husniah sebagai tersangka dalam perkara dugaan pemerasan dan tindak pidana pencucian uang.
Semua itu bukan perkara yang boleh diselesaikan hanya dengan penilaian orang di luar proses hukum. Dugaan harus dibuktikan. Setiap perkara harus berjalan sesuai aturan. Penetapan tersangka bukan putusan bersalah.
Namun, secara administratif, satu hal telah berubah: Husniah tidak lagi menjabat sebagai Bupati Gowa.
Wakil Bupati Darmawangsa Muin ditunjuk sebagai pelaksana tugas bupati.
Satu kursi berganti penghuni. Pemerintahan harus berlanjut.
Sementara itu, Husniah memilih mengarahkan perhatiannya kepada keluarga.
Yang Tidak Terlihat dari Sebuah Jabatan
Ada sisi kehidupan seorang pejabat yang jarang menjadi berita.
Kita melihatnya di kantor. Kita melihatnya di acara resmi. Kita membaca namanya ketika mengambil keputusan. Kita mengkritiknya ketika kebijakan dianggap tidak tepat.
Tetapi kita tidak selalu tahu bagaimana ia menjalani kehidupan di luar semua itu.
Berapa banyak waktu yang harus dibagi antara pekerjaan dan keluarga? Berapa banyak agenda yang membuat kehidupan pribadi harus menyesuaikan diri? Kita tidak tahu jawabannya untuk Husniah.
Karena itu, tidak perlu berpura-pura mengetahui apa yang sedang ia rasakan.
Cukup mendengar apa yang ia katakan: ingin fokus kepada keluarga.
Kalimat itu tidak menghapus persoalan yang harus dipertanggungjawabkan. Ia juga tidak mengubah proses hukum yang mungkin masih berjalan. Tetapi kalimat itu mengingatkan bahwa di balik sebuah jabatan publik, ada kehidupan pribadi yang tetap berlangsung.
Jabatan adalah amanah. Kekuasaan adalah tanggung jawab. Dan setiap orang yang memegangnya harus siap menghadapi konsekuensi dari proses yang berlaku.
Namun, kehidupan manusia tidak berhenti pada satu jabatan.
Gowa Tetap Menunggu
Sementara perhatian publik tertuju kepada Husniah, masyarakat Gowa tetap memiliki urusan yang harus diselesaikan.
Pelayanan publik harus berjalan. Pembangunan tidak boleh terbengkalai. Program pemerintah harus tetap diawasi. Warga tidak semestinya menanggung akibat dari pergantian kepemimpinan.
Darmawangsa Muin kini memikul tugas sebagai pelaksana tugas bupati. Ia harus memastikan roda pemerintahan terus bergerak.
Sebab, bagi masyarakat, yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari bukanlah siapa yang duduk di kursi bupati, melainkan apakah pemerintah hadir ketika dibutuhkan.
Orang yang mengurus administrasi ingin mendapat pelayanan. Masyarakat yang membutuhkan bantuan ingin memperoleh kepastian. Pembangunan harus tetap berjalan sesuai rencana.
Pergantian pemimpin tidak boleh membuat kebutuhan warga ikut tertunda.
Ketika Semua Kembali Menjadi Kehidupan
Pada akhirnya, jabatan selalu memiliki batas.
Ada yang mengakhirinya setelah masa tugas selesai. Ada yang harus meninggalkannya karena keputusan politik atau hukum. Jalan setiap orang berbeda.
Husniah kini menghadapi babak baru itu.
Ia memilih fokus kepada keluarga. Kita tidak perlu menambahkan kata-kata yang tidak pernah ia ucapkan. Tidak perlu menyebutnya kalah, menyerah, atau sedang berduka. Itu semua adalah penilaian yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Yang pasti, jabatan bupati sudah tidak lagi berada di tangannya.
Dan hidup harus terus berjalan.
Mungkin itulah bagian paling manusiawi dari cerita ini: ketika satu peran dalam kehidupan berakhir, peran-peran lain tetap menunggu untuk dijalani.
Bagi Husniah, ada kehidupan di luar kantor bupati. Bagi Gowa, ada pemerintahan yang harus terus bekerja. Bagi masyarakat, ada harapan agar setiap persoalan diselesaikan dengan adil dan setiap pelayanan tetap berjalan.
Tidak perlu membuat akhir cerita ini menjadi terlalu dramatis.
Sebab, kehidupan sendiri sudah cukup rumit.
Hari ini seseorang bisa berada di ruang kekuasaan. Esok, ia harus menata hari dengan keadaan yang berbeda. Sementara orang-orang yang dipimpinnya tetap menjalani kehidupan seperti biasa.
Kursi itu mungkin sudah berganti penghuni.
Tetapi waktu tidak berhenti untuk siapa pun.
Dan di luar semua urusan jabatan, setiap orang tetap harus melanjutkan hidupnya.
