Di sinilah ceritanya menjadi menarik bagi Sidrap.
Kita sering bangga kalau orang Sidrap menjadi pejabat.
Wajar.
Tetapi jangan sampai ukuran kebanggaan kita berhenti pada jabatan.
Sebab jabatan itu ada masa berlakunya.
Hari ini menteri.
Besok bukan.
Hari ini pejabat.
Besok kembali menjadi warga biasa.
Tetapi ilmu berbeda.
Ilmu bisa tinggal jauh lebih lama daripada jabatan.
Quraish Shihab sudah membuktikannya.
Ia pernah menjadi Menteri Agama.
Jabatan itu selesai.
Tetapi ketika orang mencari penjelasan tentang Al-Qur’an, namanya tetap dicari.
Itulah kekayaan yang sebenarnya.
Dan sekarang ada satu pemandangan yang mungkin tidak terlalu disadari orang Jakarta.
Di Istana Negara ada seorang putra Rappang.
Bukan membawa gabah.
Bukan membawa hasil ternak.
Bukan pula membawa proposal pembangunan.
Ia membawa sesuatu yang jauh lebih ringan.
Pemikiran.
Itu saja.
Tetapi kadang sesuatu yang paling ringan justru paling berat dibawa.
Karena pemikiran yang benar bisa mengubah cara orang melihat dunia.
Sidrap selama ini terkenal dengan beras.
Tidak salah.
Bahkan itu kebanggaan.
Tetapi saya kira sudah waktunya kita menambahkan satu kalimat:
Sidrap bukan hanya lumbung beras. Sidrap juga pernah menjadi tempat tumbuhnya salah satu lumbung pemikiran Islam Indonesia.
Quraish Shihab adalah buktinya.
Dan mungkin di sinilah kita perlu sedikit bercermin.
Kalau seorang anak Rappang bisa sampai ke Al-Azhar, menjadi menteri, menjadi ulama besar, lalu kembali dipercaya duduk di lingkaran pertimbangan Presiden, berarti persoalannya bukan apakah anak Sidrap bisa bersaing.
Bisa.
Pertanyaannya justru:
Berapa banyak lagi anak Sidrap yang sedang kita siapkan untuk perjalanan sejauh itu?
Nah.
Ini yang lebih penting.
Bukan sekadar bangga kepada Quraish Shihab.
Tetapi melahirkan Quraish Shihab-Quraish Shihab berikutnya.
Maka judul ini boleh saja terdengar seperti bercanda.
Mau Prabowo, Sidrap Masuk Istana.
Tetapi di balik bercandanya ada kenyataan.
Presiden memilih Quraish Shihab.
Quraish Shihab adalah putra Rappang.
Rappang adalah Sidrap.
Maka, suka tidak suka, senang tidak senang, bangga tidak banggaā
Sidrap memang masuk Istana.
Tidak perlu mengetuk pintu.
Tidak perlu membawa surat pengantar.
Tidak perlu meminta tempat.
Satu putranya sudah dipanggil.
Dan mungkin itu cara paling elegan sebuah daerah menunjukkan bahwa dirinya pernah melahirkan manusia yang layak didengar republik.
Dari Rappang.
Ke Al-Azhar.
Ke panggung nasional.
Dan sekarangā
ke Istana.
Sidrap ikut masuk.
Diam-diam.
Tetapi nyata. (*)
