Palangka Raya memang disebut “Kota Cantik”. Keindahannya? sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Oleh: Rahmat Budianto

Senja turun pelan di Bundaran Besar Palangka Raya.

Langit berubah warna. Biru ke jingga. Lembut.

Anak-anak berlari kecil. Pasangan muda duduk santai. Kendaraan lewat tanpa kebut-kebutan.

Tenang. Adem. Nggak bising.

Di situ, orang baru paham satu hal: julukan “Kota Cantik” itu bukan gimmick.

Ini bukan kota yang jualan gedung tinggi. Nggak ada pencakar langit. Nggak ada gemerlap berlebihan.

Tapi justru di situ “kelasnya”.

Palangka Raya itu luas. Lega. Nggak sumpek.

Langit masih kelihatan utuh. Jalanan lebar. Napas terasa panjang.

Beda.

Dan semua ini bukan kebetulan.

Dari awal, kota ini sudah “diset” oleh Soekarno.

Visinya jelas. Kota masa depan di tengah Kalimantan.

Bukan asal bangun. Tapi dirancang.

Makanya sampai sekarang, feel-nya masih dapet.

Nggak semrawut. Nggak bikin stres.

Kalau mau bukti, coba berdiri di Jembatan Kahayan.

Lihat Sungai Kahayan mengalir.

Tenang. Dalam. Kayak punya cerita panjang.

Itu bukan sekadar sungai. Itu nadi kehidupan orang Dayak dari dulu.

Geser dikit, hutan masih ada. Alam masih “hidup”. Di kejauhan, Bukit Tangkiling berdiri kayak penjaga kota.

Di sini, alam bukan dekorasi.

Alam itu bagian dari hidup.

Dan satu lagi yang bikin beda: manusianya.

Falsafah Huma Betang masih jalan.

Bukan cuma teori.

Orang beda agama? Biasa. Rukun. Nggak ribet.

Senyum warga itu asli. Nggak dibuat-buat.

Ngobrol sebentar bisa jadi panjang. Nyambung ke mana-mana.

Hangat.

Palangka Raya itu bukan kota yang “rame banget”.

Tapi jangan salah. Dia terus jalan.

Kafe-kafe mulai banyak. Ruang publik makin rapi. Infrastruktur pelan-pelan naik kelas.

Nggak ngebut. Tapi pasti.

Kayak orang santai tapi punya tujuan.

Julukan “Cantik” itu juga bukan asal tempel.

Ada maknanya.

Terencana. Aman. Nyaman. Tertib. Indah. Keterbukaan.

Lengkap.

Tapi kalau mau jujur, semua itu cuma istilah.

Bersambung…

Karena yang paling kena itu bukan kata-katanya.

Tapi rasanya.

Rasa lega karena ruangnya luas.

Rasa tenang karena alamnya dekat.

Rasa nyaman karena orangnya ramah.

Palangka Raya itu bukan kota yang cuma dilihat.

Dia harus dirasain.

Dan sekali kena feel-nya…

Susah lupa. (*)

Gambar berita Katasulsel