Makassar, Katasulsel.com — Ada kabar yang mungkin membuat banyak orang lega.
Tapi ada juga yang mungkin membuat sebagian orang gelisah.
Terutama mereka yang selama ini hidup dari telepon misterius, pesan berantai, link jebakan, dan berbagai modus penipuan digital.
Di Sulawesi Selatan, mereka punya sebutan sendiri.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Passobis.
Istilah yang sudah lama dikenal masyarakat Bugis-Makassar itu merujuk pada pelaku penipuan. Dahulu identik dengan penipu konvensional. Kini wajahnya berubah mengikuti zaman.
Passobis tidak lagi harus datang mengetuk pintu rumah.
Cukup bermodal ponsel.
Cukup punya nomor telepon.
Korban bisa ditemukan dari mana saja.
Karena itulah kebijakan baru pemerintah yang mulai berlaku 1 Juli 2026 dipandang sebagai kabar buruk bagi para passobis digital.
Mulai tanggal tersebut, pembelian dan registrasi nomor seluler baru tidak cukup lagi menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Kartu Keluarga (KK). Calon pengguna juga diwajibkan melalui proses verifikasi biometrik menggunakan teknologi pemindaian wajah.
Artinya, nomor telepon tidak lagi hanya terhubung dengan identitas di atas kertas.
Tapi juga dengan wajah pemiliknya.
Selama ini, salah satu senjata utama passobis adalah kemudahan memperoleh nomor telepon yang sulit dilacak. Data kependudukan yang bocor atau disalahgunakan kerap menjadi pintu masuk lahirnya nomor-nomor misterius yang kemudian dipakai menjalankan aksi penipuan.
Nomornya aktif hari ini.
Besok hilang.
Minggu depan muncul lagi dengan identitas berbeda.
Pola seperti itu membuat aparat sering kesulitan mengejar jejak pelaku.
Dengan sistem baru, ruang gerak tersebut mulai dipersempit.
Setiap nomor baru harus memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan pemilik sebenarnya.
Bukan sekadar angka.
Bukan sekadar fotokopi identitas.
Melainkan identitas biometrik yang jauh lebih sulit dimanipulasi.
Tentu saja kebijakan ini tidak otomatis menghapus penipuan online dari Indonesia.
Passobis digital selalu mencari jalan baru.
Mereka bisa memanfaatkan aplikasi asing, nomor virtual, akun media sosial palsu, atau berbagai celah teknologi lainnya.
Namun setidaknya satu pintu yang selama ini cukup lebar mulai ditutup.
Dan itu bukan pintu kecil.
Melainkan salah satu jalur utama yang kerap dipakai untuk menebar jebakan kepada masyarakat.
Karena itu, 1 Juli 2026 bisa menjadi tanggal penting dalam perang melawan penipuan digital.
Tanggal ketika kamera mulai ikut menjaga keamanan nomor telepon.
Tanggal ketika wajah menjadi bagian dari identitas seluler.
Dan tanggal ketika banyak passobis mungkin mulai menyadari bahwa bersembunyi di balik nomor anonim tidak lagi semudah dulu. (*)
