Tahun sudah 2026. Banyak hal berubah di dunia sepak bola.
Oleh: Edy Basri
Perubahan itu pasti, tapi bagi pencinta bola di Sidrap, satu nama ini masih sulit dilupakan: Persidrap.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Di era 1990-an, Persidrap bukan sekadar klub daerah. Tim ini pernah menjadi kekuatan besar yang disegani di Sulawesi Selatan bahkan luar provinsi. Banyak tim lawan datang dengan tekanan mental sebelum kick off dimulai.
Saat itu, kalau Persidrap turun bermain, atmosfer stadion langsung berbeda. Tribun penuh. Genderang berbunyi. Penonton berdiri di pinggir lapangan sambil berteriak memberi dukungan.
Dan yang paling ditakuti lawan kala itu adalah chemistry antarpemain Persidrap yang begitu kuat.
Mereka bukan tim bertabur pemain mahal. Tapi punya fighting spirit, pressing ketat, dan serangan balik cepat yang sering membuat lawan kelabakan.
Persidrap era 90-an dikenal sebagai tim yang rajin mengoleksi kemenangan di berbagai turnamen antarkabupaten hingga luar daerah. Banyak lawan tumbang lewat permainan keras, cepat, dan penuh determinasi.
Di lini depan, publik Sidrap kala itu sangat mengenal Agussalim asal Teteaji.
Striker ini dikenal bak Ronaldinho versi kampung. Dribelnya hidup. Kaki kirinya lincah. Ia sering melakukan solo run melewati dua sampai tiga pemain sebelum melepaskan finishing mematikan ke gawang lawan.
Kalau Agussalim sudah menusuk dari sisi lapangan, bek lawan biasanya mulai panik kehilangan marking.
βDia itu susah dibaca. Gerakannya cepat sekali,β kenang salah satu penonton senior Persidrap.
Masih dari Teteaji, ada nama Laodi.
Kalau Agussalim berbahaya lewat dribel, Laodi dikenal sebagai predator udara. Duel aerial ball hampir selalu dimenangkan olehnya.
Crossing dari sisi lapangan sering berubah menjadi gol hanya lewat satu sundulan keras kepala Laodi. Bahkan dari luar kotak kecil, heading-nya bisa mengarah tajam ke sudut gawang.
Di masa itu, banyak kiper lawan memilih waspada kalau bola mati terjadi di dekat kotak penalti.
Masuk ke lini belakang, ada Muhiddin asal Pangkajene.
Ia adalah tipe bek old school: keras, disiplin, dan sulit dilewati. Tugas utamanya sederhanaβstop striker lawan.
Dan ia melakukannya dengan baik.
Muhiddin dikenal sebagai βtembok pertahananβ Persidrap. Banyak penyerang lawan mati kutu saat dijaga ketat olehnya.
Di sektor kiri lapangan, Sahid Toaha asal Amparita menjadi motor serangan dari sisi sayap. Kecepatannya melakukan overlap sering membuka ruang bagi lini depan Persidrap.
Sementara di bawah mistar, ada sosok Basri yang dijuluki Basri Van Basten.
Refleksnya cepat. Berani duel satu lawan satu. Dalam banyak pertandingan penting, Basri menjadi last defence yang menyelamatkan Persidrap dari kebobolan.
Selain Basri, publik Sidrap juga mengenal Lallo yang bahkan sempat mencicipi atmosfer bersama PSM Makassar.
Persidrap kala itu juga diperkuat sederet pemain lokal bertalenta seperti Hajar, Hamid, Lampangnge, Faisal Sinampe, Mustari, hingga H. Bahar.
Namun nama yang paling sering dibicarakan pecinta bola lama adalah H. Bahar Abdullah asal Amparita.
Gaya mainnya disebut-sebut mirip Diego Maradona. Dribelnya pendek-pendek. Sulit direbut. Ia bisa melakukan cut inside sebelum melepas tendangan keras ke arah gawang.
Selanjutnya………………
Bek lawan sering kehilangan balance saat berhadapan dengannya.
Selain itu ada pula Hendra asal Massepe dan Landong asal Lancirang yang ikut memperkuat skuad Persidrap era emas tersebut.
Kini era itu memang telah lewat.
Sebagian pemain sudah pensiun. Sebagian lagi tinggal menjadi cerita di warung kopi para pencinta bola Sidrap.
Namun satu hal yang tidak berubah: Persidrap era 90-an tetap dikenang sebagai tim dengan mental juara, permainan ngotot, dan skuad penuh talenta lokal yang pernah membuat lawan-lawan mereka gemetar bahkan sebelum peluit kick off dibunyikan. (*)
Update terbaru: 11 Mei 2026 13:33 WIB
