Makassar, katasulsel.com β€” Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Puslitbangkes), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin, menyelenggarakan Pelatihan Skill Unggulan bertajuk Implementasi 3 Skill: Structural Equation Modeling (SEM), Analisis Risiko Kesehatan Akibat Mikroba, dan Geographic Information System (GIS). Pelatihan berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu, 3–4 Oktober 2026, di Ruang Rapat A LPPM Universitas Hasanuddin, Makassar.

Sebanyak 37 peserta dari beragam latar belakang mengikuti kegiatan ini, mulai dari mahasiswa program magister dan doktoral, dosen, tenaga kependidikan, hingga praktisi kesehatan. Keragaman peserta tersebut mencerminkan kebutuhan yang semakin luas akan penguasaan metode analisis yang kokoh, baik di lingkungan akademik maupun di institusi layanan kesehatan.

Pelatihan ini menjadi kegiatan perdana Puslitbangkes LPPM Unhas sejak kepemimpinan baru Prof. Anwar Mallongi, SKM., M.Sc., Ph.D. sebagai Kepala Pusat. Penyelenggaraannya sekaligus menandai arah baru pusat studi tersebut dalam memperkuat kapasitas metodologis peneliti kesehatan, khususnya di Kawasan Timur Indonesia, agar mampu menghasilkan riset yang bermutu dan relevan dengan persoalan kesehatan masyarakat.

Ilmu yang Menjawab Persoalan Masyarakat

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Ketua LPPM Universitas Hasanuddin, Prof. dr. Muh. Nasrum Massi, Ph.D., Sp.MK(K). Dalam sambutannya, Prof. Nasrum menekankan bahwa penguasaan metode analisis yang kuat merupakan fondasi penting bagi penelitian yang bermutu. Namun, menurutnya, tujuan akhir sebuah penelitian tidak boleh berhenti pada capaian publikasi semata.

“Publikasi di jurnal bereputasi Scopus Q1 dan Q2 tentu penting sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah. Namun, itu bukan garis akhir. Ukuran keberhasilan seorang ilmuwan yang sesungguhnya adalah sejauh mana hasil penelitiannya mampu menjawab persoalan di tengah masyarakat dan mendorong lahirnya kebijakan yang lebih baik,” ujar Prof. Nasrum.

Prof. Nasrum berharap pelatihan ini dapat melahirkan lebih banyak penelitian yang berdampak, sekaligus membentuk ilmuwan yang tidak hanya produktif secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial. Dengan demikian, pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi benar-benar dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat luas, baik dalam bentuk rekomendasi kebijakan, intervensi kesehatan, maupun solusi atas permasalahan di lapangan.

GIS: Membaca Kesehatan dari Peta

Sesi pertama pada hari pertama diisi oleh Dr. Agus Bintara Birawida, S.Kel., M.Kes. yang membawakan materi Geographic Information System (GIS) atau Sistem Informasi Geografis. Materi ini mengajak peserta memahami bahwa persoalan kesehatan tidak dapat dilepaskan dari dimensi ruang. Sebaran penyakit, paparan pencemar lingkungan, serta kerentanan suatu wilayah kerap membentuk pola geografis yang baru tampak jelas ketika data divisualisasikan di atas peta.

Peserta diperkenalkan pada prinsip dasar pengolahan data spasial dan pemanfaatannya dalam kesehatan lingkungan, termasuk contoh model aplikasi SIG berupa pemetaan wilayah berisiko kesehatan di Kota Makassar. Melalui pendekatan ini, peneliti dan pengambil kebijakan dapat mengidentifikasi wilayah prioritas, merencanakan intervensi yang lebih tepat sasaran, serta mengalokasikan sumber daya kesehatan secara lebih efisien.

Paparan materi kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik dan studi kasus kesehatan lingkungan. Peserta bekerja langsung menggunakan laptop masing-masing, mengolah data, dan menyusun peta tematik dengan pendampingan narasumber dan fasilitator.

SEM: Mengurai Hubungan Antarvariabel yang Kompleks

Sesi siang hari pertama menghadirkan Prof. Dr. Stang, Drs., M.Kes. dengan materi Structural Equation Modeling (SEM). Dalam riset kesehatan, banyak konsep penting yang tidak dapat diukur secara langsung, seperti pengetahuan, sikap, persepsi risiko, kualitas pelayanan, atau perilaku hidup sehat. Konsep-konsep inilah yang dikenal sebagai variabel laten.

SEM memungkinkan peneliti menguji hubungan antarvariabel laten tersebut secara simultan dalam satu model, sekaligus menilai seberapa baik indikator-indikator yang digunakan mampu mengukur konsep yang dimaksud. Peserta dibekali pemahaman mengenai tahapan penyusunan model, mulai dari spesifikasi model berbasis teori, pengujian model pengukuran, hingga interpretasi model struktural dan kesesuaian model (goodness of fit). Sesi ini dilanjutkan dengan praktik dan diskusi agar peserta dapat langsung menerapkan analisis pada data latihan.

Analisis Risiko Kesehatan Akibat Mikroba

Pada hari kedua, Kepala Puslitbangkes LPPM Unhas, Prof. Anwar Mallongi, SKM., M.Sc., Ph.D., menyampaikan materi Analisis Risiko Kesehatan Akibat Mikroba. Materi ini sangat relevan dengan tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, di mana air minum, makanan, sanitasi, dan lingkungan yang tercemar mikroba patogen masih menjadi sumber utama berbagai penyakit infeksi.

Peserta diperkenalkan pada kerangka analisis risiko mikrobiologis yang meliputi identifikasi bahaya, penilaian pajanan (exposure assessment), analisis hubungan dosis–respons, hingga karakterisasi risiko. Pembahasan juga menyoroti jenis data yang dibutuhkan dalam penilaian pajanan, sehingga peserta memahami bagaimana merancang pengumpulan data yang tepat sejak awal penelitian. Hasil analisis risiko semacam ini dapat menjadi dasar ilmiah bagi penetapan standar keamanan, perencanaan intervensi, dan perumusan kebijakan kesehatan lingkungan.

Sesi ini dilengkapi dengan studi kasus dan diskusi, yang memberi ruang bagi peserta untuk mengaitkan materi dengan konteks penelitian dan pekerjaan mereka masing-masing.

SEM Lanjutan: Dari Model ke Interpretasi

Materi SEM kemudian diperdalam oleh Prof. Dr. Lalu Muhammad Saleh, SKM., M.Kes. melalui sesi Structural Equation Modeling Lanjutan. Sesi ini membawa peserta melangkah lebih jauh dari pemahaman dasar menuju penerapan yang lebih komprehensif, termasuk evaluasi dan modifikasi model, pengujian pengaruh langsung dan tidak langsung, serta cara melaporkan hasil analisis SEM secara tepat dalam naskah ilmiah.

Pendekatan praktik langsung menjadi ciri utama sesi ini. Peserta mengolah dataset latihan yang telah disiapkan panitia, kemudian mendiskusikan hasilnya bersama narasumber. Dengan begitu, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memperoleh pengalaman menjalankan analisis dari awal hingga interpretasi.

Pelatihan Berbasis Praktik

Sepanjang dua hari, pelatihan dirancang interaktif dengan porsi praktik yang besar. Setiap sesi materi diikuti praktik langsung atau studi kasus, didampingi narasumber dan fasilitator. Peserta juga memperoleh dataset dan file latihan yang dapat digunakan kembali untuk mendalami materi setelah pelatihan berakhir. Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi diskusi, tanya jawab, dan evaluasi pada hari kedua.

Kombinasi ketiga keterampilan ini dinilai saling melengkapi. GIS membantu peneliti memahami di mana persoalan kesehatan terjadi, analisis risiko mikroba membantu menakar seberapa besar ancaman yang dihadapi masyarakat, sementara SEM membantu menjelaskan mengapa dan bagaimana berbagai faktor saling memengaruhi. Ketiganya menjadi bekal penting bagi peneliti untuk menghasilkan temuan yang tidak hanya kuat secara ilmiah, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi tindakan.

Komitmen Penguatan Kapasitas Peneliti

Pelaksanaan kegiatan ini didukung oleh panitia yang terdiri atas A. Muh. Faudzul Adziim, S.KM. sebagai Ketua Panitia, Herlina Pratiwi, SKM., M.Kes. sebagai Sekretaris, dan Sarmaliana, S.Tr.Kes., M.KL. sebagai Bendahara.

Melalui pelatihan ini, Puslitbangkes LPPM Unhas menegaskan perannya sebagai wadah pengembangan kapasitas peneliti kesehatan yang unggul secara metodologis sekaligus berorientasi pada pemecahan masalah kesehatan masyarakat. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat diselenggarakan secara berkelanjutan untuk memperkuat ekosistem riset kesehatan yang berdampak di Universitas Hasanuddin dan Indonesia. (*)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru