Sidrap, katasulsel.com — Selama bertahun-tahun, Kabupaten Sidenreng Rappang dikenal sebagai lumbung padi Sulawesi Selatan. Daerah ini juga mulai identik dengan lahirnya para penghafal Al-Qur’an dari berbagai pesantren.
Namun Ahad pagi (17/5/2026), wajah lain Sidrap mulai terlihat.
Ratusan siswa dari berbagai daerah memenuhi ruang-ruang kelas MTs Negeri 2 Sidrap. Tidak membawa cangkul, tidak pula membawa piala. Mereka datang membawa rumus, hafalan konsep, logika, dan mimpi besar.
Di tempat itulah Olimpiade Sains Madrasah (OSM) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2026 resmi dimulai.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Sebanyak 260 peserta dari Sidrap, Parepare, Barru, Pinrang, dan Enrekang bertarung dalam 11 mata pelajaran. Mereka memperebutkan tiket menuju final nasional di Malang pada November mendatang.
Tetapi bagi Sidrap, ajang ini tampaknya bukan sekadar perlombaan akademik biasa.
Ada perubahan arah yang mulai terasa: daerah yang dulu identik dengan sektor pertanian kini mulai serius membangun identitas baru sebagai daerah pencetak prestasi intelektual.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, secara terbuka menyebut bahwa kompetisi seperti OSM bukan hanya soal nilai, melainkan latihan mental menghadapi masa depan.
“Menguji mental kita dalam memaksimalkan apa yang ada dalam otak dan akal pikiran kita,” ujar Syaharuddin saat membuka kegiatan.
Pernyataan itu menarik, sebab jarang ada kepala daerah yang menempatkan olimpiade sains sebagai arena pembentukan mental kompetitif, bukan sekadar lomba pelengkap kalender pendidikan.
Di banyak daerah, kompetisi akademik masih sering dianggap kegiatan seremonial. Namun di Sidrap, OSM justru mulai diposisikan sebagai investasi sumber daya manusia.
Fenomena itu terlihat dari cara pemerintah daerah memberi perhatian serius. Tidak hanya hadir langsung membuka acara, Bupati bahkan menjanjikan penghargaan khusus bagi juara asal Sidrap bersama Ketua DPRD.
Semua peserta juga dijanjikan mendapatkan dukungan melalui Program Indonesia Pintar (PIP).
Pendekatan seperti ini memperlihatkan perubahan pola pikir pembangunan daerah.
Jika dulu daerah berlomba membangun infrastruktur fisik, kini kompetisi mulai bergeser pada siapa yang paling cepat membangun kualitas manusianya.
Pendiri Rumah Belajar sekaligus Ketua Panitia, Elly Hamzah, bahkan secara terang-terangan menyebut Sidrap harus memperluas citranya.
“Sidrap jangan hanya dikenal sebagai lumbung padi dan lumbung penghafal Al-Qur’an, tetapi juga lumbung medali,” katanya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan pesan besar tentang arah baru pendidikan daerah.
Apalagi beberapa pekan sebelumnya, siswa Sidrap disebut berhasil mengungguli sekolah-sekolah favorit dari Makassar dalam ajang nasional.
Bagi kalangan pendidikan, keberhasilan siswa daerah mengalahkan sekolah kota bukan lagi sekadar kejutan, melainkan tanda mulai terbukanya akses kualitas belajar yang lebih merata.
Digitalisasi pembelajaran, komunitas belajar mandiri, hingga lahirnya ruang-ruang belajar alternatif mulai mengikis dominasi sekolah-sekolah elite kota besar.
OSM 2026 di Sidrap menjadi simbol bahwa persaingan pendidikan kini tidak lagi sepenuhnya ditentukan lokasi geografis.
Anak-anak daerah mulai berani naik panggung.
Dan Sidrap tampaknya sedang menyiapkan panggung itu lebih besar dari sebelumnya. (edy)
Update terbaru: 17 Mei 2026 16:25 WIB
