Kendari, Katasulsel.com ā Awalnya hanya sebuah pertemuan di dalam ruangan.
Tetapi ketika rekamannya keluar dan beredar di media sosial, perhatian publik berubah menjadi pertanyaan besar.
Seorang perempuan yang disebut sebagai korban dugaan pemerkosaan dan perampokan terlihat berada satu ruangan dengan pria yang disebut sebagai tersangka.
Pria itu disebut-sebut merupakan mantan suaminya sendiri.
Keduanya sempat berbicara.
Lalu suasana berubah.
Perempuan tersebut menangis.
Dalam video yang beredar, Kasat Reskrim Polresta Kendari Kompol Welliwanto Malau terdengar meminta perempuan itu menghentikan tangisnya.
āLiat bu, jangan menangis bu,ā ujar Welliwanto.
Hanya beberapa detik dalam sebuah video.
Namun, potongan itulah yang kemudian memantik perdebatan panjang di media sosial.
Yang Dipersoalkan Bukan Sekadar Pertemuan
Publik tidak hanya membicarakan siapa korban dan siapa tersangka.
Yang menjadi sorotan adalah bagaimana sebuah perkara yang diduga berkaitan dengan kekerasan seksual ditangani ketika korban harus berhadapan langsung dengan orang yang dilaporkan.
Kritik pun bermunculan.
Sebagian masyarakat mempertanyakan apakah pertemuan semacam itu diperlukan dan bagaimana dampaknya terhadap kondisi korban.
Dari sinilah persoalan tersebut kemudian bergeser.
Bukan lagi sekadar soal sebuah video yang viral, tetapi tentang bagaimana institusi penegak hukum memastikan korban tetap mendapatkan perlindungan selama proses hukum berlangsung.
Polisi Memilih Minta Maaf
Polresta Kendari akhirnya merespons polemik tersebut.
Kapolresta Kendari Kombes Pol Safi’i Nafsikin menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.
āAtas nama pimpinan Polresta Kendari, kami menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat terkait adanya peristiwa yang saat ini menjadi perhatian di media sosial,ā kata Safi’i dalam keterangan resminya, Senin (28/9/2026).
Ia menyatakan apabila terdapat sikap maupun tindakan anggota yang kurang tepat atau menimbulkan ketidaknyamanan, pihaknya meminta maaf.
Tidak berhenti pada permintaan maaf.
Polresta Kendari menyatakan peristiwa tersebut akan menjadi bahan evaluasi internal.
āKami menghargai perhatian, kritik, dan masukan dari masyarakat,ā ujar Safi’i.
Menurutnya, evaluasi diperlukan untuk meningkatkan profesionalisme, kedisiplinan dan kualitas pelayanan kepolisian.
Ada Hal yang Lebih Besar dari Video
Sebuah video berdurasi singkat terkadang hanya memperlihatkan beberapa detik dari sebuah peristiwa.
Ia tidak selalu menjelaskan apa yang terjadi sebelum kamera menyala atau setelah kamera berhenti merekam.
Karena itu, proses hukum tetap harus berjalan berdasarkan pemeriksaan, alat bukti dan keterangan para pihak.
Namun, satu hal yang kini menjadi perhatian adalah bagaimana pengalaman korban selama proses tersebut.
Polresta Kendari menegaskan setiap personelnya harus mengedepankan etika, profesionalisme dan pendekatan humanis ketika menjalankan tugas.
āKami berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi Kepolisian,ā kata Safi’i.
Pada akhirnya, video itu mungkin akan tenggelam di antara jutaan konten lain di media sosial.
Tetapi ada satu hal yang semestinya tidak ikut hilang:
ketika seseorang datang ke kantor polisi untuk mencari perlindungan, cara ia diperlakukan juga menjadi bagian dari proses penegakan hukum.
Identitas korban tidak dicantumkan untuk menjaga privasi dan perlindungannya. (*)
