Sidrap ini, daerah yang tidak banyak ribut, tapi diam-diam berlari kencang
Oleh: Edy Basri
(Pemred katasulsel.com)
Pagi datang pelan di hamparan sawah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Embun masih menggantung di ujung padi.
Traktor mulai bergerak di poros Panrengnge.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Petani turun lebih cepat dari matahari.
Saya melihat semuanya. Kebetulan melintas disini.
Jalannya mulus, kontras dengan di poros Amparita-Pangkajene, rusak parah.
Di tempat lain, pembangunan sering diukur dari gedung tinggi. Dari beton. Dari jalan layang. Dari lampu kota.
Tapi. Sidrap tidak begitu.
Daerah ini tumbuh dari lumpur sawah.
Dari telur ayam.
Dari jagung.
Dari beras.
Dari keringat petani.
Dari kerja yang nyaris tak pernah masuk headline besar.
Tapi justru di situlah kekuatannya.
Sidrap bukan kota besar, seperti Makassar.
Bukan pula pusat industri raksasa.
Bukan wilayah pesisir yang hidup dari pelabuhan.
Namun, kabupaten di Sulawesi Selatan ini pelan-pelan berubah menjadi salah satu simpul ekonomi yang paling diperhitungkan.
Ia tumbuh tanpa banyak gaduh.
Tanpa terlalu banyak slogan.
Tanpa ribut.
Tapi lajunya terasa. Benar-benar terasa.
Masyarakat Sulsel sudah lama mengenal Sidrap sebagai lumbung pangan.
Jelas, julukan itu bukan basa-basi.
Sawah membentang luas.
Jagung tumbuh di banyak titik.
Peternakan ayam menjadi denyut ekonomi rakyat.
Distribusi telur dari Sidrap bahkan menjadi salah satu kekuatan rantai pangan di kawasan timur Indonesia.
Perekonomian di sini hidup dari bawah.
Bukan dari elite.
Bukan dari megaproyek.
Tapi dari rakyat.
Dari petani.
Dari peternak.
Dari pedagang kecil.
Dari pasar yang terus berdenyut.
Itulah sebabnya, Sidrap punya karakter berbeda.
Ekonominya keras kepala.
Ekonomi Sidrap saat ini tumbuh, melaju hingga 7,71 persen.
Tertinggi di Sulsel.
Saat banyak daerah bergantung pada satu sektor, Sidrap punya daya tahan dari basis kerakyatan.
Di tangan Bupati Syaharuddin Alrif, kini wajah Sidrap juga mulai berubah.
Modernisasi pertanian mulai masuk.
Mesin-mesin menggantikan pola lama.
Bersambung………..
Produktivitas didorong.
Irigasi diperbaiki.
Teknologi mulai bicara.
Petani tak lagi hanya mengandalkan cara tradisional.
Sidrap perlahan bergerak menuju pertanian modern.
Bukan meninggalkan akar.
Tapi menguatkannya.
Di sisi pemerintahan, pembangunan juga terlihat lebih progresif.
Infrastruktur pelan dibenahi.
Investasi mulai dilirik.
UMKM tumbuh.
Sektor perdagangan hidup.
Pelayanan publik terus diperkuat.
Pemerintahan mulai membaca satu hal penting: masa depan daerah tak bisa hanya ditopang satu kekuatan.
Harus kolaboratif.
Harus berani berubah.
Namun yang paling menarik dari Sidrap bukan angka.
Bukan statistik.
Bukan laporan pertumbuhan ekonomi.
Yang paling menarik adalah wataknya.
Ia tidak suka berisik.
Tidak terlalu sibuk memoles citra.
Tapi bekerja.
Pelan.
Konsisten.
Dan nyata.
Mungkin itu sebabnya Sidrap sering tampak tenang.
Padahal di balik ketenangannya, daerah ini sedang berlari.
Cepat.
Dari sawah.
Ke pasar.
Ke industri pangan.
Ke investasi.
Ke modernisasi.
Ke masa depan.
Sidrap membuktikan satu hal.
Daerah tidak harus menjadi metropolitan untuk maju.
Tidak harus penuh gedung kaca untuk dihormati.
Kadang, kekuatan besar lahir dari tanah yang sederhana.
Dari desa.
Dari petani.
Dari ayam petelur.
Dari hamparan padi.
Dari rakyat yang terus bekerja bahkan saat dunia belum bangun.
Dan Sidrap…
adalah cerita tentang daerah yang tidak banyak ribut.
Tapi diam-diam sedang berlari kencang. (*)
