Katasulsel.com — Nasib kurang mujur dialami pembalap Indonesia, Veda Ega Pratama, dalam sesi kualifikasi Moto3 Catalunya 2026. Meski sempat tampil menjanjikan di awal Q1, performanya akhirnya harus “turun grid” setelah persaingan ketat di menit-menit krusial.

Sejak awal sesi, Veda langsung tancap gas dan sempat memimpin catatan waktu tercepat. Di dunia balap motor, kondisi ini biasa disebut benchmark lap, ketika seorang rider jadi patokan awal sebelum catatannya diserang pembalap lain.

Namun posisi itu tidak bertahan lama. Rivalnya, termasuk Álvaro Carpe, berhasil melakukan time attack yang lebih cepat dan menggeser Veda ke posisi kedua.

Situasi di Q1 memang berlangsung ketat. Veda sempat masuk pit untuk melakukan reset strategi dan mengganti pendekatan, tapi justru saat itu banyak pembalap lain memanfaatkan lintasan untuk mencatatkan flying lap terbaik mereka.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Meski sempat bertahan di posisi empat besar—zona yang biasanya menjadi tiket aman menuju Q2—Veda akhirnya tidak mampu mempertahankan ritme di fase akhir sesi. Dalam istilah balap, ini sering disebut kehilangan late-session pace, di mana performa di akhir sesi tidak cukup kuat untuk menjaga posisi.

Hingga bendera finis dikibarkan, Veda harus puas berada di posisi ketujuh Q1. Hasil ini membuatnya gagal melaju ke Q2 dan harus memulai balapan dari posisi ke-21 pada race day.

Di paddock Moto3, posisi start seperti ini jelas bukan situasi ideal. Dalam balapan kecil dengan jarak ketat seperti Moto3, start dari barisan belakang berarti harus menghadapi traffic pack, risiko turbulence udara, hingga potensi duel agresif di midfield battle sejak lap awal.

Meski begitu, masih ada ruang untuk comeback ride. Dalam banyak kasus Moto3, pembalap dari grid belakang tetap bisa masuk zona poin jika mampu menjaga konsistensi race pace dan memanfaatkan slipstream di rombongan.

Kini, fokus Veda dan tim akan bergeser ke strategi balapan: bagaimana mengelola ban, memilih momen overtaking, dan menjaga ritme agar bisa melakukan recovery position dari barisan belakang.

Hasil Q1 ini memang mengecewakan, tapi di dunia Moto3, posisi start bukan akhir cerita—melainkan awal dari pertarungan panjang di lintasan.

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.

Update terbaru: 16 Mei 2026 20:51 WIB