Program ini nantinya melibatkan sekitar 300 peserta, mulai dari petani, penyuluh pertanian, mahasiswa, pemerintah daerah, hingga generasi muda desa. Menariknya, keterlibatan perempuan juga menjadi perhatian serius dalam proyek ini sebagai simbol pertanian modern yang inklusif.

Bagi banyak pihak, proyek ini bukan sekadar agenda kampus atau riset akademik biasa. Ini adalah pertaruhan masa depan pangan Indonesia.

Dan Sidrap sedang berdiri di garis depannya.

Dukungan penuh juga datang dari pimpinan Universitas Hasanuddin yang memastikan kolaborasi internasional ini akan dikawal serius agar memberi dampak nyata bagi masyarakat desa.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Rangkaian program dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 melalui seminar internasional, lokakarya teknologi pertanian, hingga demonstrasi lapangan langsung di kawasan pertanian Sidrap.

Di tengah dunia yang mulai cemas menghadapi ancaman krisis pangan global, Sidrap justru mengirim pesan optimistis: masa depan pertanian Indonesia tidak boleh tertinggal.

Dari tanah Bugis, sebuah revolusi sedang ditanam.

Dan dunia mulai meliriknya. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.