Example 650x100

Palopo, Katasulsel.com — Palopo, kota kecil di Sulawesi Selatan, dengan penduduk tak sampai dua ratus ribu jiwa, kini berubah menjadi panggung besar bagi drama politik.

Pemungutan Suara Ulang (PSU) yang dijadwalkan pada 24 Mei 2025 bukan sekadar pengulangan proses demokrasi, tapi medan tempur penuh intrik, strategi, dan gengsi.

Seperti kutipan Sun Tzu yang melegenda, “Strategi tanpa taktik adalah jalan paling lambat menuju kemenangan. Taktik tanpa strategi adalah kebisingan sebelum kekalahan.”
Palopo tengah menjadi arena di mana strategi dan taktik saling beradu.

Example 970x970

Empat pasangan calon (Paslon) yang bertarung di Pilwali Palopo sebelumnya kembali bersiap.

Selisih suara yang tipis antara Trisal-Akhmad dan FKJ-Nur—hanya 595 suara—membuat pertarungan kali ini diprediksi lebih panas dari kopi hitam di warkop-warkop Palopo.
Tidak ada ruang untuk lengah. Semua pihak, dari politisi lokal hingga elit nasional, mulai “turun gunung” demi memastikan kemenangan kubunya.

Rusdi Masse Mappasessu (RMS), tokoh Nasdem yang dikenal lihai memainkan catur politik, disebut-sebut akan mengerahkan seluruh kekuatan partainya untuk mendukung FKJ-Nur.

Bersambung…

Bupati-bupati Nasdem, anggota DPRD, hingga simpatisan partai siap digerakkan seperti pion-pion dalam strategi perang.

Bagi Nasdem, kemenangan di Palopo bukan sekadar soal kursi kekuasaan, tapi juga soal harga diri sebagai pemenang Pilwali sebelumnya.

Sementara itu, kubu Trisal-Akhmad yang diusung Gerindra dan Demokrat juga tak kalah agresif.

Sebagai partainya Presiden, Gerindra tentu tak ingin kehilangan muka. Para tokoh partai hingga relawan akan dimobilisasi untuk mempertahankan kemenangan mereka.

Dalam politik, kalah di kandang sendiri adalah tamparan keras yang sulit diterima.

Golkar dan PKS, yang mendukung pasangan RMB-Atika, juga mulai menyusun langkah. Meski perolehan suara mereka pada pemilihan pertama jauh tertinggal, Golkar sebagai partai tua tak ingin kehilangan martabatnya.

Gotong royong menjadi mantra yang terus digaungkan untuk memompa semangat kader dan relawan.

Golkar tahu, ini bukan hanya soal memenangkan PSU, tapi juga soal membuktikan bahwa mereka masih relevan di panggung politik Sulsel.

Di sisi lain, pasangan Putri Dakka-Haidar Basir yang didukung oleh PDI-P, PAN, dan PPP menghadapi tantangan berat.

Kekalahan telak pada pemilihan sebelumnya menjadi pukulan psikologis bagi tim mereka. Dengan hanya meraih 7.729 suara, mereka harus bekerja ekstra keras untuk membalikkan keadaan.

Putri Dakka, sosok yang sebelumnya dielu-elukan sebagai calon potensial, kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kerja sosialnya belum cukup untuk memenangkan hati masyarakat Palopo.

Namun, dalam politik lokal seperti di Palopo, suara rakyat sering kali ditentukan oleh kebutuhan instan.

Bersambung…

Survei menunjukkan bahwa pemilih pemula dan Gen Z lebih memilih berdasarkan apa yang bisa mereka dapatkan saat itu juga, bukan berdasarkan figur atau investasi sosial kandidat sebelumnya.

Di sinilah manajemen tim dan logistik menjadi kunci. Tanpa pengelolaan isu yang cerdas dan distribusi logistik yang tepat sasaran, sulit bagi Paslon untuk meraih suara maksimal.

PSU ini bukan hanya tentang siapa yang akan memimpin Palopo selama lima tahun ke depan. Ini juga tentang menjaga demokrasi tetap sehat dan damai.

Dalam hiruk-pikuk politik yang membara, penting bagi semua pihak untuk mengingat bahwa tujuan utama adalah kesejahteraan masyarakat Palopo.

Jangan sampai perbedaan pilihan memicu gesekan yang merusak harmoni kota kecil ini.

Palopo adalah milik orang Palopo. Masa depan kota ini ada di tangan warganya sendiri, bukan di tangan elit politik dari luar yang hanya datang untuk menunjukkan kekuatan.
KPU sebagai penyelenggara harus memastikan bahwa proses berjalan jujur dan adil bagi semua pihak.

Tabe, salamakki bertanding. Jaga Palopo tetap damai.(*)