Edy Basri EDITOR
Redaktur Katasulsel.com yang mengawal isu publik dan dinamika pembangunan daerah.
Artikel: 311 Lihat semua

Nama Rusdi Masse Mappasessu selalu menarik ditulis. Selalu ada cerita. Selalu ada sisi lain yang tidak semua orang tahu.

Oleh: Edy Basri

Saya punya satu cerita kecil tentang dia.

Bukan cerita rapat DPR. Bukan juga cerita kampanye. Bukan kisah politik besar yang penuh kamera dan mikrofon.

Ini hanya cerita sederhana. Cerita yang terjadi di Jakarta. Sekitar tiga tahun lalu.

Waktu itu saya bersama 14 orang jurnalis dari Sidrap berangkat ke Jakarta. Kami semua tergabung dalam organisasi IWO — Ikatan Wartawan Online.

Perjalanan kami tidak mewah. Tidak ada tiket pesawat. Tidak ada fasilitas VIP.

Kami naik kapal laut dari Makassar menuju Jakarta.

Perjalanan panjang. Berhari-hari di laut. Ombak kadang tenang. Kadang juga membuat perut ikut bergoyang. Tapi bagi kami, itu bagian dari perjalanan. Sekaligus cara paling realistis untuk menghemat biaya organisasi.

Istilah anak muda sekarang: low budget trip.

Kami menginap di Asrama Haji Jakarta Timur. Tempatnya sederhana. Tapi cukup nyaman untuk rombongan jurnalis daerah seperti kami. Tidak ada yang mengeluh. Kami memang terbiasa dengan situasi seperti itu.

Hari pertama kegiatan berjalan biasa saja.

Hari kedua mulai terasa lebih santai.

Malam kedua di Jakarta itu tiba-tiba saya teringat seorang teman lama.

Namanya Zulkifli Zain. Ia anggota DPRD Sulawesi Selatan. Kebetulan juga sedang berada di Jakarta.

Saya mencoba meneleponnya.

Tidak lama ia menjawab.

“Kita ngopi saja,” katanya singkat.

Kami lalu janjian bertemu di sebuah hotel besar di Jakarta. Saya pun memesan Grab dari Asrama Haji. Perjalanan lumayan jauh. Jakarta malam hari juga tidak pernah benar-benar sepi.

Lampu-lampu kota seperti tidak pernah tidur.

Sampai di hotel.

Saya melihat Zulkifli Zain sudah menunggu di lobi. Kami pun duduk di sebuah meja kopi. Suasana hotel itu elegan. Lampu-lampu hangat. Tamu hilir mudik. Ada yang datang dengan jas rapi. Ada yang terlihat seperti pebisnis.

Kami baru sekitar lima menit ngobrol.

Tiba-tiba sebuah mobil Toyota Alphard putih berhenti di depan pintu hotel.

Mobil itu pelan. Pintu terbuka.

Seorang pria turun.

Saya langsung mengenalinya.

Rusdi Masse. RMS.

Saya spontan berkata kepada Zulkifli Zain.

“Itu RMS.”

Saya memang sudah mengenalnya sejak lama. Sejak ia masih menjabat Bupati Sidrap dua periode.

Tidak lama setelah itu, RMS juga melihat ke arah kami.

Tatapannya seperti mencoba memastikan sesuatu.

Benar saja.

Ia langsung memanggil.

“Edy!”

Saya berdiri.

Kami bersalaman. Hangat. Tidak canggung. Padahal saat itu ia sudah menjadi anggota DPR RI.

Ia kemudian ikut duduk di meja kopi bersama kami.

Obrolan langsung mengalir.

Gaya RMS tidak berubah.

Santai. Langsung. Tanpa protokol yang ribet.

Ia bertanya satu per satu.

“Kapan tiba di Jakarta?”

“Kapan pulang ke Sidrap?”

“Datang sama siapa?”

Saya menjelaskan semuanya.

Kami datang 14 orang jurnalis dari Sidrap. Utusan organisasi IWO. Menginap di Asrama Haji Jakarta Timur.

Datangnya naik kapal laut dari Makassar.

Rencananya pulang juga naik kapal laut.

RMS mendengarkan dengan serius.

Lalu terjadi sesuatu yang sampai sekarang masih saya ingat jelas.

Tanpa banyak bicara. Tanpa basa-basi.

Ia memanggil ajudan pribadinya.

Ajudan itu datang mendekat.

RMS kemudian mengeluarkan uang cash Rp20 juta.

Diserahkan kepada saya.

“Ini buat belanja-belanja kalian di Jakarta,” katanya.

Saya sempat terdiam beberapa detik.

Jujur saja, saya kaget.

Tidak menyangka.

Bagi rombongan jurnalis daerah seperti kami, angka itu tentu tidak kecil.

Tapi cerita malam itu ternyata belum selesai.

RMS kembali memanggil ajudannya.

Ia memberi instruksi lain.

“Belikan mereka tiket pesawat ke Makassar.”

Saya benar-benar tidak menyangka.

Kami datang ke Jakarta naik kapal laut.

Pulangnya malah naik pesawat.

Istilah populernya sekarang: upgrade mendadak.

Dari ekonomi laut… ke ekonomi langit.

RMS hanya tersenyum. Tidak banyak bicara.

Bagi dia mungkin itu hal biasa.

Bagi kami, itu kenangan yang tidak mudah dilupakan.

Sejak malam itu saya sering memikirkan satu hal.

RMS memang punya gaya yang khas.

Tidak suka bertele-tele.

Kalau ingin membantu, langsung.

Kalau ingin bertindak, langsung.

Istilah populernya sekarang: no drama, just action.

Gaya seperti ini yang membuat banyak orang di Sulawesi Selatan mengenalnya.

Ada yang menyebutnya politisi lapangan.

Ada yang menyebutnya king maker.

Ada juga yang menyebut gaya politiknya sebagai street politics.

Politik jalanan.

Langsung. Real. Tanpa banyak teori.

Cerita hidup RMS sendiri memang panjang.

Ia bukan lahir dari keluarga elite.

Ia pernah menjadi sopir truk.

Dari situlah semuanya dimulai.

Dari jalanan panjang Sulawesi. Dari kabin truk yang panas. Dari perjalanan yang kadang berhari-hari.

Pengalaman itu membuat mentalnya keras.

Tidak mudah menyerah.

Tidak mudah takut.

Tahun 2008 ia mencalonkan diri menjadi Bupati Sidrap.

Banyak yang meragukan waktu itu.

Mantan sopir truk ingin jadi bupati?

Tapi politik kadang tidak selalu mengikuti logika elit.

Rakyat Sidrap memilihnya.

Ia menang.

Bahkan dua periode.

Selama memimpin Sidrap, RMS dikenal sering turun langsung ke masyarakat. Tidak hanya duduk di kantor. Ia sering muncul di sawah. Di pasar. Di desa-desa.

Sidrap juga berkembang cukup pesat saat itu.

Pertanian diperkuat. Infrastruktur diperbaiki.

Setelah dua periode menjadi bupati, RMS naik kelas.

Tahun 2019 ia terpilih menjadi anggota DPR RI. Masuk Komisi III, komisi yang mengurus hukum dan keamanan.

Di Senayan, RMS tetap sama.

Tidak banyak berubah.

Gaya bicaranya tetap lugas.

Kadang keras.

Kadang langsung ke inti persoalan.

Orang sering menyebutnya gaya no nonsense politics.

Politik tanpa banyak basa-basi.

Karier politik RMS juga penuh warna.

Ia pernah berada di Golkar.

Kemudian bergabung dengan NasDem.

Dan kini membuat langkah baru dengan masuk PSI.

Langkah yang tentu saja membuat peta politik Sulawesi Selatan kembali bergerak.

Dalam dunia politik, RMS sering disebut king maker.

Tokoh yang bisa memengaruhi kemenangan seseorang dalam kontestasi.

Jaringannya luas.

Pengaruhnya kuat.

Basis massanya cukup solid.

Tapi bagi saya pribadi, RMS tidak hanya soal politik.

Cerita malam di Jakarta itu menunjukkan sisi lain.

Sisi manusiawi.

Sisi spontan.

Sisi yang jarang muncul di berita politik.

Tidak ada kamera malam itu.

Tidak ada pidato.

Tidak ada konferensi pers.

Hanya sebuah meja kopi di lobi hotel.

Dan sebuah keputusan spontan.

Memberi.

Tanpa banyak kata.

Bagi sebagian orang mungkin itu hal kecil.

Bagi kami, rombongan jurnalis dari Sidrap, itu kenangan besar.

Sekarang RMS sudah berusia 53 tahun.

Usia yang dalam dunia politik sering disebut golden age of leadership. Pengalaman sudah banyak. Jaringan sudah terbentuk. Insting politik biasanya sudah sangat tajam.

Langkahnya ke depan tentu masih akan menarik.

Karena satu hal yang pasti.

Cerita tentang RMS hampir selalu punya kejutan.

Seperti malam di Jakarta itu.

Tidak direncanakan.

Tidak diduga.

Tapi sulit dilupakan.

Dan secara pribadi saya ingin menyampaikan sesuatu:

Terima kasih, RMS.

Dan selamat ulang tahun yang ke-53 tahun.

Semoga selalu sehat.

Semoga perjalanan politiknya terus sukses.

Karena bagi banyak orang di Sulawesi Selatan, Rusdi Masse bukan sekadar politisi.

Ia adalah cerita. (edybasri)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.