Jakarta, Katasulsel.com — Menjelang Iduladha, dapur-dapur rumah tangga biasanya mulai sibuk. Permintaan bumbu dapur naik. Harga pangan ikut bergerak. Di tengah situasi itu, satu daerah di Sulawesi Selatan kembali menunjukkan perannya sebagai “penjaga denyut” pasokan bawang merah nasional: Enrekang.
Di saat sejumlah sentra produksi dihantam cuaca ekstrem, petani bawang merah di Kabupaten Enrekang masih mampu menjaga ritme distribusi. Bahkan, pengiriman ke Kalimantan tetap berjalan rutin tiga kali dalam sepekan.
Pemerintah pusat kini memberi perhatian khusus pada stabilitas bawang merah menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional. Kementerian Pertanian memantau langsung sejumlah sentra utama seperti Brebes, Solok, Bima, Nganjuk, Garut hingga Enrekang. Hasilnya, produksi nasional dinilai masih aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun situasinya tidak sepenuhnya mulus.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Musim tanam Maret hingga Mei 2026 disebut menjadi periode yang cukup berat bagi petani hortikultura. Cuaca ekstrem memicu serangan organisme pengganggu tanaman seperti ulat grayak dan moler. Produktivitas di beberapa daerah ikut terdampak.
Di tengah tekanan itu, Enrekang justru tampil sebagai salah satu titik penyangga distribusi.
Petani bawang merah asal Enrekang, Kasmidi, menyebut aktivitas panen masih berlangsung hingga mendekati Iduladha. Truk pengangkut bawang tetap bergerak menuju Kalimantan secara berkala. Tidak berhenti. Tidak tersendat.
Inilah yang dalam istilah rantai pasok pangan disebut sebagai “stabilitas distribusi”. Kadang bukan hanya soal produksi melimpah, tetapi kemampuan menjaga aliran barang tetap hidup saat pasar mulai tegang.
Kementerian Pertanian mencatat produksi bawang merah nasional rata-rata mencapai sekitar 2 juta ton konde basah per tahun atau setara 1,3 juta ton rogol kering panen. Angka itu masih berada di atas kebutuhan konsumsi nasional yang berkisar 1,26 juta ton per tahun.
Artinya, stok nasional sebenarnya masih cukup. Tetapi pasar tidak hanya membaca stok. Pasar membaca psikologi.
Menjelang Iduladha, permintaan biasanya meningkat. Di saat bersamaan, cuaca buruk membuat produksi di beberapa daerah menurun hingga 30–40 persen. Efeknya langsung terasa pada harga.
Di titik inilah daerah seperti Enrekang menjadi penting.
Kabupaten berhawa dingin di Sulawesi Selatan itu bukan sekadar daerah penghasil. Ia mulai memainkan peran sebagai jangkar logistik pangan kawasan timur Indonesia.
Bawang merah dari Enrekang tidak hanya masuk pasar lokal Sulsel. Ia bergerak lintas pulau. Menyentuh dapur-dapur Kalimantan. Menahan gejolak pasokan agar harga tidak melonjak terlalu liar.
Kementan memperkirakan situasi akan mulai lebih longgar pada Juni 2026 seiring masuknya masa panen di sejumlah sentra utama nasional. Sampai momentum itu tiba, distribusi dari daerah-daerah produktif seperti Enrekang menjadi penopang utama stabilitas pasar.
Di balik hiruk-pikuk harga pangan nasional, ada kerja sunyi dari lereng-lereng pertanian. Ada petani yang terus memanen di tengah cuaca tak menentu. Ada truk yang tetap berjalan dini hari demi menjaga dapur tetap mengepul.
Dan dari Enrekang, bawang merah terus bergerak. (*)
