Bone, katasulsel.com — Dugaan penyalahgunaan barkot BBM subsidi kembali bikin resah warga di Kabupaten Bone. Seorang pemilik kendaraan bernama Bahtiar mengaku kaget bukan main saat hendak mengisi BBM subsidi di SPBU Ahmad Yani, Kecamatan Tanete Riattang Barat. Barkot mobil miliknya justru disebut sudah lebih dulu terpakai.

Peristiwa itu terjadi pada Senin siang, sekitar pukul 12.00 Wita. Bahtiar datang seperti biasa membawa barkot kendaraan dan uang pembayaran untuk mengisi BBM subsidi. Namun situasi mendadak berubah saat petugas SPBU menyampaikan barkot kendaraan dengan nomor polisi DW 1023 AF sudah tercatat digunakan sebelumnya.

“Saya kaget waktu petugas bilang barkot mobil saya sudah terpakai,” ujar Bahtiar.

Pengakuan itu langsung memunculkan tanda tanya besar. Sebab, menurut Bahtiar, barkot tersebut berada di tangannya dan tidak pernah diberikan kepada orang lain. Ia pun mulai curiga ada dugaan barkot kendaraannya telah digandakan atau digunakan pihak tertentu tanpa izin.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Bahtiar sempat meminta bantuan petugas SPBU untuk menelusuri siapa yang memakai barkot tersebut. Namun kondisi antrean kendaraan yang cukup padat membuat pengecekan tak bisa dilakukan saat itu. Ditambah lagi, dirinya harus segera pergi melayat.

Akhirnya, petugas meminta dirinya tetap melakukan pengisian terbatas.

“Petugas bilang isi Rp100 ribu dulu saja. Karena antrean ramai dan saya juga buru-buru pergi melayat, saya iyakan,” katanya.

Yang membuat persoalan ini makin serius, Bahtiar mengaku kejadian serupa bukan kali pertama dialaminya. Sekitar dua bulan lalu, ia disebut pernah mengalami hal yang sama saat hendak membeli BBM subsidi.

“Ini bukan pertama kali. Dulu juga pernah kejadian begitu,” ungkapnya.

Dari situ, Bahtiar menduga barkot miliknya kemungkinan pernah difoto, disalin, atau bahkan digandakan untuk kepentingan pengisian BBM subsidi secara ilegal.

Ia juga menaruh curiga barkot itu bisa saja dipakai untuk pengisian jeriken atau kendaraan lain yang tidak semestinya.

“Siapa tahu bisa terdeteksi siapa yang pakai. Jangan sampai barkot itu dipakai terus untuk pengisian jeriken,” ujarnya.

Kasus ini kembali membuka pertanyaan soal keamanan sistem barkot BBM subsidi di lapangan. Jika benar barkot kendaraan bisa dipakai pihak lain tanpa verifikasi ketat, maka celah penyalahgunaan BBM subsidi dinilai masih terbuka lebar.

Bukan hanya merugikan pemilik kendaraan yang sah, kondisi seperti ini juga berpotensi membuat distribusi BBM subsidi meleset dari sasaran.

Di tengah keluhan masyarakat soal antrean panjang, dugaan pelansiran, hingga pengisian jeriken yang kerap jadi sorotan di sejumlah SPBU di Bone, kasus yang dialami Bahtiar menambah kekhawatiran baru.

Bahtiar berharap ada penguatan sistem pengamanan dan verifikasi barkot agar tidak mudah dimanfaatkan oknum tertentu.

“Kalau memang ada yang gandakan barkot orang lain, tentu sangat merugikan. BBM subsidi bisa tidak tepat sasaran,” tegasnya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak SPBU Ahmad Yani terkait dugaan tersebut. Penelusuran dan konfirmasi masih terus dilakukan.

Kini masyarakat berharap ada audit dan evaluasi serius agar distribusi BBM subsidi benar-benar sampai ke warga yang berhak—bukan bocor lewat celah barkot yang diduga bisa dimainkan pihak tak bertanggung jawab. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.