SIDRAP, katasulsel.com – Suara petani kembali menggema di ruang rapat Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Persoalan klasik soal air irigasi kembali muncul sebagai keluhan paling keras dalam rapat koordinasi (rakor) pertanian yang dipimpin langsung Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, di Aula Saromase Kompleks SKPD, Selasa (26/5/2026).

Forum yang mempertemukan pemerintah daerah dengan petani dari berbagai wilayah itu berubah menjadi ruang terbuka curhat massal sektor pertanian. Di sana, para petani tidak hanya bicara panen, tetapi juga soal “hidup-mati” sawah: air yang makin sulit, saluran yang tersumbat, hingga lahan yang belum optimal.

Keluhan paling dominan datang dari soal ketersediaan air irigasi yang dinilai belum stabil di sejumlah titik persawahan. Kondisi itu disebut langsung berdampak pada produktivitas pertanian di lapangan.

Selain irigasi, petani juga mendorong percepatan sejumlah program strategis seperti cetak sawah baru, optimalisasi lahan (opla) nonrawa, normalisasi saluran air, hingga perbaikan infrastruktur pertanian yang dinilai sudah mendesak.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Bupati Syaharuddin Alrif merespons langsung berbagai masukan tersebut. Ia menegaskan bahwa sektor pertanian bukan sekadar program, tetapi urat nadi ekonomi Sidrap yang tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa solusi konkret.

“Pertanian adalah kekuatan utama Sidrap. Semua persoalan petani harus kita dengar dan kita carikan jalan keluarnya,” tegas Syaharuddin.

Ia juga menginstruksikan seluruh jajaran, mulai dari perangkat daerah, camat, hingga kepala desa, untuk memperkuat koordinasi lapangan agar setiap persoalan bisa ditangani lebih cepat tanpa menunggu menumpuk.

Di sisi teknis, Kepala Dinas Pertanian Sidrap, Ibrahim, menyebut rakor ini menjadi ruang penting untuk menyatukan data, masalah, dan program agar tidak berjalan sendiri-sendiri di tiap wilayah.

Sementara itu, hadirnya jajaran OPD seperti Dinas PSDA dan perangkat kecamatan menegaskan bahwa persoalan pertanian di Sidrap kini ditangani secara lintas sektor.

Rakor ini akhirnya tidak sekadar forum formal, tetapi menjadi ruang terbuka yang memperlihatkan satu hal: di Sidrap, air bukan sekadar kebutuhan, tapi penentu nasib panen dan kesejahteraan petani. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita