Sidikalang, katasulsel.com – Dari kamar kos sederhana, uang belanja pas-pasan, hingga kiriman beras dari kampung, belasan siswa SMK HKBP Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang menembus perguruan tinggi negeri.

Tahun 2026 menjadi catatan membanggakan bagi sekolah kejuruan tersebut. Sebanyak 11 siswa berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dan mengamankan kursi di berbagai kampus negeri di Indonesia.

Capaian ini sekaligus mematahkan anggapan lama bahwa sekolah kejuruan sulit bersaing di jalur akademik menuju PTN.

Wakil Kepala Sekolah SMK HKBP Sidikalang, Okto Sinambela, menyebut keberhasilan itu lahir dari perjuangan panjang para siswa yang tidak datang dari latar belakang serba cukup.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

“Sebanyak 11 siswa SMK HKBP Sidikalang lolos ke PTN melalui jalur SNBT,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).

Namun yang paling menyentuh bukan sekadar angka kelulusan.

Mayoritas siswa yang lolos berasal dari keluarga sederhana hingga menengah ke bawah. Banyak di antaranya berasal dari desa-desa pelosok, jauh dari pusat kota dan fasilitas pendidikan yang memadai.

Sebagian besar orang tua mereka bekerja sebagai petani. Ada pula yang menggantungkan hidup dari pekerjaan kecil, termasuk berjualan makanan di acara-acara kampung.

Tak sedikit siswa yang hidup sebagai anak kos di Sidikalang. Demi menekan biaya, mereka tinggal berdesakan—tiga hingga empat orang dalam satu kamar.

Untuk makan sehari-hari, mereka memasak sendiri. Kiriman dari kampung sering kali bukan uang besar, melainkan beras, bahan makanan, dan bekal hidup yang harus dihemat.

Dari kondisi itulah, mereka justru menaklukkan persaingan nasional yang dikenal ketat.

Sebanyak 11 siswa berhasil menembus kampus negeri, di antaranya Universitas Negeri Medan (UNIMED), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Palangkaraya, hingga Universitas Syiah Kuala.

Nama-nama itu datang dari jurusan beragam: pendidikan olahraga, sastra, ekonomi pembangunan, teknik elektro, ilmu komputer, hingga agroteknologi.

Keberhasilan ini makin kuat karena sebelumnya 5 siswa lain lebih dulu lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) ke sejumlah kampus, termasuk Politeknik Negeri Medan, Politeknik Maritim Negeri Indonesia, dan Universitas Palangkaraya.

Salah satu kisah paling menggambarkan perjuangan itu datang dari siswa yang mengaku hidup hemat di perantauan.

Kiriman keluarga dari desa kadang hanya cukup untuk dua pekan. Mereka memasak sendiri, berjalan kaki ke pasar, dan menekan pengeluaran seminimal mungkin demi tetap bertahan sekolah.

Bukan Sekadar Lulus, Tapi Mematahkan Batas Sosial

Keberhasilan 11 siswa ini bukan hanya statistik pendidikan.

Ini adalah potret bahwa anak-anak dari kamar kos sempit, keluarga petani, dan dapur sederhana tetap bisa menembus gerbang kampus negeri lewat kerja keras, disiplin, dan daya juang.

SMK HKBP Sidikalang tak hanya meluluskan siswa. Mereka sedang menulis pesan keras bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari tempat yang besar. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita