ARAFAH — Di tengah lautan manusia yang memadati Padang Arafah, suasana khusyuk menyelimuti Tenda 111 Arafah, Senin (26/05/2026). Lebih dari 200 jemaah haji duduk rapat, larut dalam khutbah yang menjadi salah satu momen paling sakral dalam rangkaian ibadah haji.

Di tempat itu, Tenaga Ahli Menteri Agama Bidang Kerja Sama Internasional, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, Lc., M.H., bertindak sebagai khatib Khutbah Arafah, menyampaikan pesan yang tidak hanya menyentuh spiritual, tetapi juga sosial dan kebangsaan.

Dari Padang Arafah, ia mengajak jemaah untuk mengangkat doa bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga untuk Indonesia.

“Bapak Menteri Agama mengajak masyarakat dan seluruh jemaah untuk mendoakan bangsa dan negara kita. Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya, menjaga bangsa ini, ekonomi membaik, dan pemerintahan di bawah Presiden Prabowo diberikan kemudahan serta perlindungan,” ujarnya di hadapan jemaah.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Suasana tenda seketika hening. Banyak jemaah menunduk, sebagian tampak menahan haru. Di tengah panas Arafah yang menyengat, doa justru terasa menyejukkan.

Lebih jauh, Dr. Bunyamin menegaskan bahwa ibadah haji bukan hanya soal ritual, tetapi juga pembentukan kesadaran sosial—bagaimana seorang hamba belajar bersyukur, peduli, dan tidak melupakan jasa orang lain.

“Mari kita perkuat ibadah ritual dan ibadah sosial. Kita diajak mengevaluasi diri, belajar bersyukur, dan menghargai orang-orang yang berjasa dalam hidup kita,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup sendiri, karena selalu ada orang tua, guru, keluarga, dan banyak pihak yang ikut membentuk perjalanan hidup seseorang.

Dalam khutbahnya, ia turut mengangkat kisah Nabi Musa AS sebagai teladan penggunaan nikmat Allah untuk kemaslahatan yang lebih luas, bukan hanya untuk diri sendiri.

Jemaah Muda Meningkat, Tanda Ekonomi Bergerak

Usai khutbah, Dr. Bunyamin juga menyoroti kondisi jemaah dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) An Nur yang berjumlah sekitar 200 orang pada tahun ini.

Menariknya, ia menyebut terdapat banyak jemaah usia muda yang ikut berangkat, bahkan ada yang masih berusia 14 tahun.

“Di An Nur sendiri kurang lebih 200 orang, dan tahun ini banyak jemaah muda-muda. Ada yang termuda 14 tahun. Ini mungkin pertanda ekonomi Sidrap makin baik jika dilihat dari kemampuan masyarakat untuk berhaji,” ungkapnya.

Menurutnya, meningkatnya partisipasi jemaah usia muda menunjukkan adanya kesadaran dan kemampuan finansial masyarakat yang semakin membaik.

Imbauan: Siapkan Haji Sejak Dini

Lebih jauh, Dr. Bunyamin mengajak masyarakat untuk mulai memikirkan ibadah haji sejak sekarang, tidak menunggu usia tua.

Ia menekankan pentingnya menabung dan bersabar menunggu antrean panjang keberangkatan haji.

“Mulai sekarang sudah harus niat, menabung, dan bersabar menunggu giliran. Haji itu bukan hanya soal kemampuan hari ini, tapi kesiapan sejak jauh hari,” pesannya.

Suasana khutbah berlangsung penuh kekhusyukan. Di tengah jutaan manusia yang berkumpul di Arafah, pesan tentang syukur, bangsa, dan masa depan justru menjadi inti dari renungan para jemaah.

Khutbah Arafah pun kembali menegaskan satu hal: bahwa di titik paling sakral ibadah haji, doa bukan hanya untuk diri sendiri—tetapi juga untuk negeri yang ditinggalkan, dan generasi yang sedang dipersiapkan. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.