Malam sudah turun di rumah dinas Kapolres Sidrap.

Oleh: Edy Basri

Lampu teras menyala kekuningan.
Suara takbir masih terdengar dari kejauhan.
Di sudut halaman, beberapa anggota polisi masih hilir mudik. Sebagian baru kembali dari polsek-polsek membawa laporan pembagian daging kurban kepada masyarakat.

Kapolres Sidrap, AKBP Dr. Fantry Taherong, duduk tanpa banyak protokol malam itu.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Peci hitamnya sesekali dilepas lalu dipasang kembali. Di depannya hanya ada teh yang mulai dingin. Fantry tak suka kopi.

“Yang paling berat dalam hidup itu bukan menyembelih sapi,” katanya pelan.

Ia berhenti sejenak.

“Menyembelih ego.”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Tidak terdengar seperti sambutan pejabat. Lebih seperti suara hati seseorang yang lama memahami hidup.

Tahun ini, maksudnya di Iduladha 1447 H, Polres Sidrap di bawah kepemimpinannya menyembelih 15 ekor sapi besar.

Di Idulfitri tahun lalu juga begitu.

Sapi-sapi itu, sebagiannya disembelih di sekitar Mapolres Sidrap.
Sebagian lagi tersebar di polsek-polsek jajaran agar pembagian daging lebih dekat menjangkau masyarakat.

Bukan hanya warga kota.

Tetapi juga masyarakat di pelosok.

“Kalau kurban hanya ramai di pusat kota, maka maknanya belum sampai sepenuhnya,” ujar Fantry.

Saya melihat wajahnya serius saat mengatakan itu.

Baginya, Iduladha bukan lomba siapa paling besar hewannya. Bukan pula seremoni tahunan agar terlihat dermawan.

Ia justru berbicara tentang hal yang lebih sunyi: keikhlasan.

Tentang bagaimana manusia sering terlalu sulit berbagi.

Terlalu sayang pada apa yang dimiliki.

Jabatan.

Kekuasaan.

Harta.

Pengaruh.

Padahal, menurutnya, semua hanya titipan.

“Kadang orang mudah membeli sapi, tapi sulit membuka hati,” katanya lagi.

Malam makin larut.

Angin dari halaman rumah dinas bergerak pelan. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan melintas di depan Mapolres Sidrap yang paginya dipenuhi masyarakat untuk salat Iduladha berjamaah.

Ya, halaman kantor polisi itu kembali dibuka lebar untuk rakyat.

Tidak ada pagar psikologis pagi tadi.

Masyarakat datang membawa sajadah masing-masing. Polisi dan warga berdiri dalam saf yang sama.

Ada tukang becak.

Ada petani.

Ada anggota polisi bersenjata.

Ada anak-anak kecil berlarian setelah salat selesai.

Semua bercampur dalam suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata formal.

Fantry Taherong tampaknya memang ingin kantor polisi terasa lebih manusiawi.

Lebih dekat.

Lebih hangat.

“Kalau masyarakat hanya datang ke polisi saat takut, berarti ada yang belum selesai,” ujarnya.

Kalimat itu terasa panjang maknanya.

Siang tadi, pembagian daging kurban juga berlangsung tanpa suasana kaku. Anggota polisi terlihat turun langsung membagikan daging kepada masyarakat di sekitar Polres maupun wilayah polsek-polsek.

Bukan sekadar membagi kantong plastik.

Tetapi sedang membangun rasa saling percaya.

Ada warga tua yang berkali-kali mengucapkan terima kasih. Ada ibu rumah tangga yang tersenyum sambil membawa daging pulang. Ada anak kecil yang berdiri menunggu ayahnya menerima bagian kurban.

…………….. Baca lagi yuk!

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.