Makassar, Katasulsel.com – Kalau selama ini Pasar Butung jadi bahan obrolan pedagang, netizen, bahkan tukang ojek online di Makassar, kini ceritanya mulai berubah haluan. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, hadir langsung, menyalakan lampu hijau agar pasar terbesar di Kecamatan Wajo itu kelolaannya clear dan clean.

Jumat (27/2/2026), Balai Kota Makassar berubah jadi arena diplomasi mini. Bukan duel ala sinetron, tapi rapat koordinasi serius. Kapolres Pelabuhan Makassar, AKBP Rise Sandiyantanti, ikut nimbrung. Tujuannya jelas: memastikan transisi pengelolaan pasar aman, tertib, dan sesuai aturan.

Appi bicara blak-blakan: “Ini bukan mencari siapa salah, tapi bagaimana kita semua paham kondisi sebenarnya. Semua harus clear, nggak ada yang dirugikan.” Nada santai tapi tegas, khas pemimpin yang ngerti “drama pasar” tapi nggak mau terjebak di dalamnya.

Koordinasi ini bukan pertama kali. Sebelumnya, beberapa pertemuan telah digelar, tapi Appi memastikan kali ini semua pihak duduk satu meja—pedagang, koperasi lama, direksi Perumda Pasar Makassar Raya, bahkan polisi. Semua harus terbuka. Semua harus transparent.

Sisi menariknya, Wali Kota menekankan good vibes only: berbeda sudut pandang? No problem. Tapi semua harus dimediasi. Tujuannya, agar pemerintah bisa ambil posisi tepat dan tanggung jawab penuh atas aset daerah.

“Kalau semua duduk bareng, semua jelas, Pasar Butung bisa jadi contoh pengelolaan pasar yang tertib, aman, dan bermanfaat bagi masyarakat Makassar,” kata Appi menutup rapat.

Netizen dan pedagang pun mulai senyum. Setelah sekian lama Pasar Butung jadi “arena tarik-menarik kepemilikan”, kini ada hope baru. Transisi pengelolaan yang tadinya bikin deg-degan, kini diarahkan agar smooth, tanpa drama, tanpa polemik.

Makassar lagi bersolek. Pasar Butung bukan cuma soal dagangan, tapi soal urban governance yang nyata, dengan Wali Kota Appi sebagai sutradara utama—mengatur semua pemain supaya “show berjalan aman dan lancar”.

Kalau rencana ini mulus, Pasar Butung bisa jadi bukan sekadar pasar tradisional biasa. Bisa jadi ikon sinergi pemerintah, pedagang, dan aparat keamanan di Makassar. Drama? Masih ada, tapi versi positif yang semua orang bisa senyum bareng. (*)