Edy Basri EDITOR
Redaktur Katasulsel.com yang mengawal isu publik dan dinamika pembangunan daerah.
Artikel: 306 Lihat semua

MAKASSAR — Minggu siang itu suasana di Rumah Jabatan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan di Jalan Yusuf Dg Ngawing terasa sedikit berbeda. Bukan karena rapat anggaran. Bukan pula karena agenda politik.

Yang datang adalah aura runway.

Langkahnya tenang. Senyumnya terukur. Gaya khas dunia catwalk. Tapi ini bukan panggung fashion show.

Ini ruang audiensi.

Dialah Andi Aisyah Anjaliekhan Kilat. Putri daerah Sulsel yang kini menyandang gelar Puteri Indonesia Sulawesi Selatan II 2026.

Ia datang menemui Fatmawati Rusdi. Bukan sekadar silaturahmi. Ada misi di balik pertemuan itu.

Advokasi perempuan.

Pertemuan berlangsung santai. Tapi pesannya serius.

Bagi Fatmawati, pembangunan tidak cukup hanya diukur lewat angka ekonomi. Tidak cukup lewat grafik pertumbuhan. Tidak cukup lewat laporan investasi.

Ada indikator lain yang lebih penting.

Perempuan harus diberi panggung.

“Puteri Indonesia Sulawesi Selatan bisa menjadi representasi perempuan daerah yang membawa dampak nyata bagi masyarakat,” kata Fatmawati.

Ia menyebut pemerintah provinsi terus mendorong berbagai program pemberdayaan perempuan. Fokusnya jelas: UMKM perempuan.

Pelatihan. Pendampingan. Akses usaha.

Tujuannya satu: perempuan mandiri secara ekonomi.

Fatmawati bahkan menyebut perempuan bisa menjadi engine baru ekonomi daerah. Terutama di sektor usaha kecil, ekonomi kreatif, hingga pariwisata.

“Program pemberdayaan tidak boleh hanya berhenti pada bantuan. Harus membangun mental kewirausahaan,” ujarnya.

Ia menilai potensi perempuan Sulawesi Selatan sangat besar. Bahkan di wilayah pesisir dan daerah wisata yang belum tergarap maksimal.

Perempuan muda—termasuk para finalis Puteri Indonesia—bisa menjadi influencer sosial yang membawa perubahan.

Bukan hanya tampil cantik di panggung.

Tapi juga membawa program nyata.

Di sisi lain, Andi Aisyah datang bukan hanya membawa mahkota daerah. Ia membawa program advokasi bernama EmpowHER.

Program ini fokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan.

Lewat mentoring. Workshop bisnis. Literasi kewirausahaan.

“Advokasi saya berfokus pada pemberdayaan perempuan, khususnya pelaku UMKM,” katanya.

Audiensi dengan wagub ini baginya penting. Banyak data dan program pemerintah yang bisa dikolaborasikan.

Ia berharap bisa menjadi bridge antara pemerintah dan perempuan pelaku usaha.

“Saya ingin membawa workshop dan edukasi entrepreneurship agar perempuan bisa mandiri secara ekonomi,” katanya.

Di dunia pageant, Aisyah termasuk figur dengan portfolio kuat.

Usianya 25 tahun.

Putri dari Andi Muhammad Kilat Karaka.

Pendidikan pun tidak main-main. Ia lulusan Teknik Sipil Universitas Hasanuddin. Lalu melanjutkan studi Master Management with Enterprise and Business Growth di University of Glasgow, Inggris.

Saat ini ia juga menjadi Founder sekaligus CEO PT Acte Krastala Indonesia.

Dan tentu saja, penggagas gerakan EmpowHER.

Langkah berikutnya: panggung nasional.

Ia akan mewakili Sulawesi Selatan pada ajang Puteri Indonesia 2026 di Jakarta.

Di dunia modeling, ada istilah “stage presence”. Aura yang membuat seseorang menonjol saat tampil.

Tapi bagi Aisyah, panggungnya bukan hanya catwalk.

Panggungnya adalah pemberdayaan perempuan.

Pertemuan dengan wagub itu mungkin hanya satu adegan kecil.

Namun bisa jadi opening scene dari perjalanan yang lebih besar.

Dari runway menuju perubahan sosial. (edy)

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.