Pinrang, katasulsel.com — Ulang tahun ke-66. Angka yang matang. Harusnya juga matang dalam hasil.
Sabtu (11/4/2026), puncak perayaan digelar di Kantor Bupati Pinrang. Tema besar diangkat: “Sinergi Tumbuh, Pinrang Tangguh.”
Kalimatnya bagus. Keren. Visioner.
Tapi pertanyaannya: sudah sejauh mana “tangguh” itu terasa?
Di atas kertas, Pinrang terlihat gagah.
Angka Bicara: Pinrang Itu Kuat
Produksi padi tembus 533 ribu ton.
Lahan panen lebih dari 63 ribu hektare.
Ini bukan angka kecil. Ini angka daerah penopang pangan.
Belum lagi pisang ratusan ribu kuintal. Rambutan. Semangka.
Tanahnya subur. Alamnya ramah.
Kalau bicara potensi, Pinrang: kelas berat.
Tapi Realitas Tidak Selalu Seindah Data
Jumlah penduduk sudah 427 ribu jiwa.
Yang menarik—sekaligus mengkhawatirkan—lebih dari 37 persen tenaga kerja masih lulusan SD ke bawah.
Di sini mulai terasa “lubangnya”.
Produksi tinggi, tapi kualitas SDM belum sepenuhnya mengikuti.
Artinya?
Nilai tambah bisa bocor.
Petani bisa tetap bekerja keras… tapi belum tentu menikmati hasil maksimal.
Lumbung Pangan, Tapi…
Selama ini Pinrang dikenal sebagai lumbung pangan Sulawesi Selatan.
Tapi zaman sudah berubah.
Hari ini, tidak cukup hanya menanam dan panen.
Yang dibutuhkan adalah: mengolah, mengemas, dan menjual dengan nilai lebih tinggi.
Kalau tidak, Pinrang akan terus kuat di produksi… tapi lemah di kesejahteraan.
Tema Besar: Sinergi
“Sinergi Tumbuh.”
Ini bukan sekadar jargon.
Dengan 12 kecamatan dan 109 desa/kelurahan, Pinrang butuh kerja bersama—bukan kerja sendiri-sendiri.
Petani butuh teknologi.
Pasar butuh akses.
Generasi muda butuh ruang.
Kalau tidak disatukan, potensi besar itu bisa jalan sendiri-sendiri—dan akhirnya melemah.
Ramadan, Refleksi, dan Harapan
Perayaan tahun ini bertepatan dengan Ramadan.
Ada tabligh akbar. Ada suasana religius.
Bagus.
Karena pembangunan tidak hanya soal angka, tapi juga nilai.
Pertanyaan Terakhir
Di usia 66 tahun, Pinrang sudah punya semuanya:
tanah subur, produksi besar, posisi strategis.
Tinggal satu yang harus dijawab:
apakah kekuatan itu sudah benar-benar dirasakan masyarakatnya?
Kalau belum, maka pekerjaan rumahnya masih panjang.
Dan ulang tahun ini… seharusnya jadi titik jujur untuk mengakuinya. (*)


