Usai wisuda, Aras menegaskan bahwa gelar doktor ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi representasi perjuangan keluarga petani di kampung halamannya.

“Saya lahir dari keluarga petani miskin. Gelar ini saya persembahkan untuk orang tua, isteri, dan anak-anak saya. Ini bukti bahwa anak desa juga bisa sampai doktor,” ujarnya.

Kini, kisah dari sawah Parippung Bone itu menjadi potret nyata bahwa dalam dunia pendidikan tinggi, latar belakang bukan batas akhir, melainkan titik awal dari perjalanan panjang menuju puncak ilmu pengetahuan. (*)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru