Usai wisuda, Aras menegaskan bahwa gelar doktor ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi representasi perjuangan keluarga petani di kampung halamannya.
“Saya lahir dari keluarga petani miskin. Gelar ini saya persembahkan untuk orang tua, isteri, dan anak-anak saya. Ini bukti bahwa anak desa juga bisa sampai doktor,” ujarnya.
Kini, kisah dari sawah Parippung Bone itu menjadi potret nyata bahwa dalam dunia pendidikan tinggi, latar belakang bukan batas akhir, melainkan titik awal dari perjalanan panjang menuju puncak ilmu pengetahuan. (*)
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
