Sidrap, katasulsel.com — Mimpi memang datang berbondong-bondong ke Aula Kantor Bupati Sidrap. Tapi tidak semuanya bertahan sampai panggung.

Di balik riuhnya audisi Dangdut Academy 8, ada satu titik yang diam-diam menentukan segalanya: meja uji.

Di situlah banyak mimpi berhenti.

Sejak pagi, antrean panjang dipenuhi wajah-wajah muda. Pelajar, remaja, hingga peserta dari berbagai daerah datang dengan harapan besar. Mereka membayangkan satu hal—bernyanyi di depan juri, termasuk Selvy Yanma.

Namun realitasnya berbeda.

Tak sedikit peserta harus menerima kenyataan pahit: gugur sebelum tampil.

Belum sempat naik panggung.
Belum sempat menunjukkan aksi.
Bahkan, belum sempat bertemu juri.

Semua ditentukan di meja awal—tes vokal singkat yang jadi gerbang pertama. Di sinilah kualitas dasar diuji tanpa kompromi. Nada meleset sedikit, kontrol kurang stabil, atau karakter suara belum kuat—langsung tersingkir.

Pulang.

Cepat. Sunyi. Tanpa tepuk tangan.

Kontras dengan suasana luar yang meriah, di titik ini audisi terasa dingin. Tidak ada drama panjang. Tidak ada kesempatan kedua.

Hanya lolos—atau selesai.

Bagi sebagian peserta, ini jadi momen tak terlupakan. Bukan karena berhasil, tapi karena tersadar: panggung nasional tidak semudah yang dibayangkan.

Dangdut di sini bukan sekadar soal berani tampil. Tapi juga soal kesiapan.

Meski begitu, antrean tak surut. Justru semakin panjang. Mereka yang masih menunggu tetap berdiri tegak, seolah berkata: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”

Sidrap hari itu memang penuh mimpi. Tapi juga penuh seleksi.

Dan dari ratusan yang datang, hanya segelintir yang benar-benar melangkah lebih jauh.

Sisanya? Pulang membawa satu hal penting: pengalaman pertama menghadapi kerasnya dunia panggung.

Karena di Dangdut Academy 8, panggung besar selalu dimulai dari penyaringan yang paling sunyi.(*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita