Spanyol — Pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, tidak datang ke seri Moto3 Spanyol dengan cerita mulus.
Sebaliknya, Circuito de Jerez justru menjadi salah satu lintasan yang paling menantang dalam perjalanannya.
Ia memang mengenal trek itu. Sudah berkali-kali melintas. Tapi “kenal” tidak selalu berarti “mudah”.
Jerez punya karakter yang rumit. Teknis. Menuntut presisi tinggi di setiap tikungan. Sedikit saja kehilangan ritme, posisi bisa langsung melorot.
Pengalaman Veda di sana membuktikan itu.
Saat debut di Red Bull Rookies Cup 2024, ia bahkan gagal finis di balapan pertama. Bukan karena tak mampu, tapi karena belum sepenuhnya menaklukkan karakter trek.
Di balapan kedua, ia mulai menemukan ritme—meski hasilnya masih di luar zona atas.
Tahun berikutnya, ada peningkatan. Ia sempat meraih podium ketiga. Namun itu tidak serta-merta membuat Jerez menjadi “trek nyaman”.
Justru sebaliknya.
Lintasan ini tetap menyisakan pekerjaan rumah.
Di ajang JuniorGP, performanya belum stabil. Ia masih berkutat di posisi tengah, menunjukkan bahwa konsistensi di Jerez bukan hal mudah.
Kini di Moto3, tantangannya berlipat.
Level kompetisi naik. Tekanan meningkat. Dan Jerez tetap dengan karakternya yang “tidak kompromi”.
“Treknya teknis, butuh presisi di setiap sektor,” kata Veda.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tapi sebenarnya menggambarkan kesulitan yang ia hadapi.
Moto3 bukan hanya soal kecepatan. Tapi juga bagaimana menjaga ritme lap demi lap. Dan di Jerez, ritme itu sering kali sulit ditemukan.
Karena itu, fokus Veda bukan sekadar hasil.
Ia menargetkan sesuatu yang lebih fundamental: start yang kuat dan kepercayaan diri sejak sesi awal.
Strategi bertahap.
Karena di trek seperti Jerez, memaksakan hasil tanpa ritme justru bisa berakhir kesalahan.
Seri Moto3 Spanyol, 24–26 April 2026, akan jadi ujian penting. Bukan hanya untuk menunjukkan kecepatan, tapi juga kematangan.
Dan bagi Veda, ini bukan tentang menaklukkan trek.
Tapi tentang bertahan, beradaptasi, dan perlahan menguasainya.(*)
