Sidrap, katasulsel.com — Kita sering berpikir inovasi itu lahir dari kota besar. Dari gedung tinggi. Dari laboratorium mahal.
Ternyata tidak selalu begitu.
Di sebuah ruang kelas sederhana di Pangkajene Sidrap, Sulsel, ide itu justru tumbuh. Pelan. Sunyi. Tapi tepat sasaran.
Namanya Mansur. Guru, seorang kepala sekolah. Bukan programmer. Bukan pendiri startup. Tapi ia melakukan sesuatu yang sering gagal dilakukan banyak orang: menjawab masalah nyata.
Matematika.
Pelajaran yang sejak dulu punya reputasi buruk di kalangan siswa. Sulit. Kaku. Menakutkan.
Di situlah ia mulai.
Bukan dengan teori besar. Tapi dengan pertanyaan sederhana:
kenapa anak-anak selalu kalah sebelum mencoba?
Jawabannya bukan di buku. Tapi di cara belajar.
Lalu lahirlah MathMentorAI.
Bukan sekadar aplikasi. Tapi “teman belajar” yang tidak lelah. Tidak marah. Tidak bosan mengulang penjelasan. Ia hadir 24 jam. Menjelaskan pelan-pelan. Mengurai soal satu per satu.
Ini bukan soal teknologi tinggi.
Ini soal empati yang diterjemahkan jadi sistem.
Dan dari ruang kecil itu, langkahnya melompat jauh. Sangat jauh.
Ke AI4Good Partner Expo, di Bangkok, Thailand
Forum global. Tempat berkumpulnya orang-orang dengan ide besar dari berbagai negara. Dari India, Thailand, hingga ekosistem teknologi internasional seperti Microsoft.
Di sana, Mansur bukan sekadar hadir.
Ia membawa cerita.
Bahwa AI tidak harus rumit. Tidak harus mahal. Dan tidak harus lahir dari kota besar.
Yang dibutuhkan hanya satu:
masalah yang jelas, dan keberanian untuk menyelesaikannya.
Di forum itu, banyak solusi dipamerkan. Ada AI untuk tunanetra. Ada sistem pemantauan bencana. Semua hebat.
Tapi ada satu yang unik.
AI dari kelas SMP di Sidrap.
Kecil, tapi relevan.
Karena yang dihadapi bukan konsep abstrak, tapi realitas sehari-hari: siswa yang kesulitan belajar.
Di titik ini, kita mulai melihat sesuatu.
