ICLASH 2026 Siap Digelar di Dua Daerah, Peneliti Muda Dunia Diajak Unjuk Gagasan
Jakarta, katasulsel.com β Biasanya konferensi internasional identik dengan ruangan hotel mewah, presentasi panjang, lalu selesai tanpa dampak nyata bagi masyarakat.
Namun konsep berbeda justru ditawarkan International Conference on Law, Accountability, Sustainability, and Halal (ICLASH) 2026.
Konferensi internasional yang akan berlangsung pada 14β16 Oktober 2026 itu tidak hanya berisi forum akademik.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Panitia justru menyiapkan kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat di dua daerah lokasi pelaksanaan, yakni Turikale, Kabupaten Maros dan Andoolo, Kabupaten Konawe Selatan.
Karena itu, ICLASH 2026 disebut bukan sekadar konferensi ilmiah biasa.
Tetapi forum yang mencoba menggabungkan riset, aksi sosial, hingga penguatan ekosistem halal global.
Tema besar yang diusung tahun ini ialah:
βSynergizing Law, Accountability, and Sustainable Innovation for a Resilient Global Halal Ecosystem.β
Kalau diterjemahkan sederhana, konferensi ini ingin mencari cara bagaimana hukum, inovasi, dan tata kelola bisa berjalan bersama demi membangun industri halal yang kuat dan berkelanjutan.
Yang menarik, forum ini menggunakan konsep hybrid conference.
Artinya, peserta tidak harus datang langsung ke lokasi.
Akademisi, peneliti, hingga praktisi dari berbagai negara bisa ikut secara daring.
Dalam dunia akademik modern, konsep ini dikenal sebagai global knowledge networking, yakni jejaring pertukaran ilmu lintas negara tanpa dibatasi jarak geografis.
ICLASH 2026 diprakarsai empat institusi besar, yakni IAI DDI Maros, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Dewan Pendidikan Kabupaten Maros, serta Universitas Muhammadiyah Barru.
Forum ini juga menghadirkan sesi khusus Young Scholar Symposium on Law, Accountability, Sustainability, and Halal.
Sesi tersebut disiapkan khusus untuk peneliti muda agar bisa tampil di forum internasional.
Co-chair ICLASH 2026, Ismail Suardi Wekke, mengatakan konferensi ini sengaja dirancang berbeda dari kebanyakan forum akademik lainnya.
Menurutnya, dunia kampus saat ini tidak boleh lagi hanya menjadi βmenara gadingβ.
βKami ingin memastikan ICLASH 2026 menjadi menara air, bukan lagi bergaya menara gading,β ujarnya.
Istilah menara gading sendiri sering digunakan untuk menggambarkan dunia akademik yang sibuk dengan teori tetapi jauh dari realitas masyarakat.
Sedangkan konsep menara air berarti ilmu pengetahuan harus mengalir dan dirasakan langsung manfaatnya oleh publik.
βKonferensi ini harus menjadi katalisator perubahan yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat,β jelas alumni Universiti Kebangsaan Malaysia itu.
Ia juga menegaskan bahwa format hybrid dipilih agar pemikiran global bisa bertemu dengan kebutuhan lokal.
βPakar dunia bisa berdiskusi langsung dengan praktisi lokal mengenai masa depan industri halal,β katanya.
Menariknya lagi, ICLASH tidak hanya membahas soal sertifikasi halal atau bisnis semata.
Forum ini juga akan mengupas isu hukum, keberlanjutan, akuntabilitas, hingga inovasi sosial berbasis ekonomi halal.
Karena itu, konferensi ini dipandang sebagai bagian dari upaya membangun resilient halal ecosystem atau ekosistem halal yang tahan terhadap perubahan global.
Dan di tengah pesatnya perkembangan industri halal dunia saat ini, ICLASH 2026 mencoba mengirim satu pesan penting:
Bahwa kampus bukan lagi sekadar tempat bicara teori.
Tetapi juga ruang melahirkan solusi nyata untuk masyarakat.(*)
Update terbaru: 18 Mei 2026 18:24 WIB
