Enrekang, Katasulsel.com – Ada satu topik yang sering dihindari di ruang publik, apalagi di balik tembok penjara: kesehatan seksual. Tapi di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Enrekang, topik yang kerap dianggap “tabu” itu justru dibuka terang-terangan—bahkan dijadikan bagian dari pembinaan.

Dalam rangka peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62, Rutan Enrekang menggelar penyuluhan kesehatan seksual bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Langkah ini menjadi menarik, bahkan tidak biasa, karena menyasar aspek yang jarang disentuh dalam program pembinaan konvensional.

Kegiatan ini bukan sekadar edukasi kesehatan biasa. Ia menyentuh wilayah sensitif: pemahaman tentang tubuh, risiko penyakit menular seksual, hingga kesadaran menjaga diri—di lingkungan yang serba terbatas.

Pendekatan seperti ini sebenarnya mulai terlihat di sejumlah rutan lain di Indonesia, di mana penyuluhan kesehatan, termasuk penyakit menular seksual dan HIV, menjadi bagian dari upaya pembinaan berbasis kesehatan dan kemanusiaan.

Namun yang membuat langkah Rutan Enrekang terasa “berbeda” adalah keberaniannya membuka isu yang sering dianggap tidak layak dibahas secara terbuka, apalagi di lingkungan pemasyarakatan.

Di balik itu, ada realitas yang tidak bisa diabaikan: lingkungan tertutup seperti rutan memiliki risiko kesehatan tersendiri, termasuk potensi penyebaran penyakit jika tidak diimbangi dengan edukasi yang tepat.

Karena itu, penyuluhan ini bukan sekadar program seremonial HBP, tetapi lebih sebagai “intervensi sunyi”—upaya membangun kesadaran dari dalam, tanpa sorotan besar, tapi berdampak jangka panjang.

Yang juga menarik, kegiatan ini memperlihatkan pergeseran cara pandang terhadap warga binaan. Mereka tidak lagi hanya diposisikan sebagai objek pembinaan hukum, tetapi juga sebagai individu yang memiliki hak atas informasi kesehatan, termasuk hal-hal yang paling personal.

Jika biasanya HBP diisi dengan kegiatan olahraga, seni, atau aksi sosial, seperti yang banyak dilakukan rutan lain , maka langkah Rutan Enrekang ini bisa disebut sebagai “level berikutnya” dalam pembinaan: menyentuh sisi yang lebih dalam, lebih personal, dan lebih preventif.

Di balik jeruji, edukasi ini mungkin tidak terdengar gemuruh. Tapi justru di situlah letak kekuatannya—sunyi, tapi penting.

Dan dari Enrekang, muncul satu pesan yang cukup berani: bahwa membangun manusia tidak cukup hanya dengan aturan, tapi juga dengan pengetahuan—bahkan untuk hal yang selama ini dianggap tabu. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita