Soppeng, Katasulsel.com — Aroma Piala Dunia 2026 mulai terasa hingga ke Kabupaten Soppeng. Di tengah ramainya prediksi calon juara, Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng secara terbuka menjagokan Timnas Argentina untuk kembali mengangkat trofi paling bergengsi di dunia sepak bola.
Menurut Suwardi Haseng, Argentina bukan sekadar datang sebagai juara bertahan, tetapi hadir sebagai tim yang memiliki keseimbangan sempurna antara pengalaman, kualitas individu, dan permainan kolektif yang sulit ditandingi negara lain.
“Argentina masih menjadi tim yang paling siap. Mereka punya mental juara, organisasi permainan yang matang, dan pemain-pemain yang sudah terbiasa tampil di pertandingan besar,” ujarnya kepada katasulsel.com, Senin malam, 15 Juni 2026.
Penilaian Suwardi bukan tanpa alasan. La Albiceleste datang ke Amerika Utara dengan status pemuncak kualifikasi zona CONMEBOL dan tetap mempertahankan fondasi utama skuad juara dunia Qatar 2022.
Di bawah arahan Lionel Scaloni, Argentina menjelma menjadi tim yang bermain seperti satu kesatuan. Tidak bergantung pada satu pemain, tetapi bergerak layaknya mesin yang setiap komponennya bekerja sempurna.
Meski usia Lionel Messi telah menginjak 38 tahun, sang maestro tetap dianggap sebagai playmaker utama sekaligus kapten yang mampu mengubah jalannya pertandingan kapan saja.
Bagi Suwardi Haseng, kehadiran Messi bukan hanya soal kemampuan mengolah bola.
“Messi itu seperti pelatih di atas lapangan. Dia bisa membaca permainan, mengatur tempo, sekaligus menjadi sumber motivasi bagi rekan-rekannya,” katanya.
Yang membuat Argentina semakin menakutkan adalah kombinasi pemain senior dan generasi baru yang sedang berkembang pesat.
Nama-nama seperti Enzo Fernández, Alexis Mac Allister, Julián Álvarez hingga Cristian Romero kini berada pada puncak performa. Di saat bersamaan, talenta muda seperti Nico Paz dan Valentín Barco hadir memberikan energi baru di ruang ganti maupun di lapangan.
Jika dianalogikan dalam sepak bola, Argentina saat ini memiliki lini tengah yang mampu menguasai penguasaan bola, lini depan yang tajam melakukan pressing tinggi, dan lini belakang yang kokoh seperti benteng baja.
Duet Cristian Romero dan Lisandro Martínez menjadi “tembok pertahanan” yang sulit ditembus lawan, sementara Emiliano Martínez tetap menjadi penjaga gawang yang sering tampil heroik dalam momen-momen krusial.
Suwardi menilai salah satu keunggulan terbesar Argentina justru berada pada aspek yang tidak terlihat dalam statistik.
Menurutnya, setelah berhasil meraih gelar juara dunia di Qatar, Argentina kini bermain tanpa beban psikologis yang selama puluhan tahun menghantui mereka.
“Dulu mereka selalu dibayangi tekanan harus juara. Sekarang beban itu sudah hilang. Mereka bermain lebih lepas, lebih percaya diri, dan itu sangat berbahaya bagi lawan-lawannya,” ungkapnya.
Di sektor taktik, Suwardi juga memuji kecerdasan Lionel Scaloni yang dianggap memiliki kemampuan membaca pertandingan layaknya gelandang pengatur serangan.
Scaloni dikenal mampu mengubah formasi dari 4-3-3 menjadi 4-4-2 atau bahkan sistem yang lebih fleksibel tanpa mengganggu keseimbangan tim. Kemampuan ini membuat Argentina sulit ditebak oleh lawan, terutama saat memasuki fase gugur yang sering ditentukan oleh detail kecil.
Faktor lain yang dinilai menguntungkan Argentina adalah lokasi penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Kondisi cuaca, kultur sepak bola, hingga dukungan suporter Amerika Latin diyakini menjadi keuntungan tersendiri bagi skuad Tango dibandingkan banyak negara Eropa.
“Atmosfernya lebih dekat dengan Amerika Selatan. Argentina tentu lebih cepat beradaptasi dibandingkan banyak tim lainnya,” kata Suwardi.
Namun yang paling membuat Bupati Soppeng itu yakin adalah pengalaman skuad Argentina menghadapi laga hidup-mati.
Para pemain inti Argentina telah melewati berbagai partai final, mulai dari Copa América hingga Piala Dunia. Pengalaman tersebut membentuk apa yang oleh pengamat sepak bola disebut sebagai “muscle memory” juara—kemampuan alami untuk tetap tenang saat menghadapi tekanan besar.
“Ketika pertandingan masuk menit-menit kritis, Argentina tahu apa yang harus dilakukan. Mereka sudah berkali-kali melewati situasi seperti itu,” ujarnya.
Dengan komposisi skuad yang matang, ruang ganti yang harmonis, taktik yang fleksibel, dan kehadiran Lionel Messi yang berpotensi menjalani Piala Dunia terakhirnya, Suwardi Haseng meyakini Argentina masih menjadi kandidat terkuat untuk mempertahankan mahkota sepak bola dunia.
Jika mampu kembali mengangkat trofi di Amerika Utara, maka Argentina akan mencetak sejarah sebagai tim yang sukses melakukan back-to-back champion dan semakin mengukuhkan era emas La Albiceleste di panggung sepak bola dunia. (edybasri)
