Sidrap, katasulsel.com — Menjelang Iduladha 2026, denyut ekonomi peternakan rakyat di Kabupaten Sidenreng Rappang mulai terasa lebih hidup. Aroma fermentasi pakan di kandang-kandang sapi, aktivitas peternak membersihkan ternak, hingga lalu lintas pedagang sapi mulai meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Fenomena itu sejalan dengan data resmi Dinas Peternakan dan Perikanan Sidrap yang mencatat ketersediaan hewan kurban mencapai 4.382 ekor. Dari jumlah itu, sapi mendominasi dengan 4.087 ekor atau sekitar 93 persen dari total stok ternak kurban tahun ini.
Kondisi tersebut memperlihatkan Sidrap belum kehilangan reputasinya sebagai salah satu kantong pemasok sapi potong terbesar di Sulawesi Selatan.
Kecamatan Watang Sidenreng tercatat menjadi wilayah dengan stok tertinggi yakni 749 ekor, disusul Maritengngae sebanyak 612 ekor dan Watang Pulu 505 ekor.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Sidrap, Ahmad Dollah, menilai tingginya stok sapi kurban tahun ini tidak terjadi secara instan. Menurutnya, ada perubahan pola pikir peternak dalam menerapkan sistem pemeliharaan modern.
“Sekarang peternak sudah mulai memahami pentingnya manajemen fattening atau penggemukan. Mereka menjaga average daily gain (ADG) sapi agar pertambahan bobot hariannya stabil menjelang Iduladha,” ujar Ahmad Dollah kepada Katasulsel.com, Minggu, 17 Mei 2026.
Ia menjelaskan, tren pasar kurban kini mengalami perubahan. Konsumen tidak lagi hanya melihat ukuran tubuh sapi, tetapi juga kualitas karkas, kesehatan ternak, hingga body condition score (BCS) atau tingkat kondisi tubuh sapi.
“Kalau dulu yang penting besar, sekarang pembeli sudah lebih paham kualitas. Sapi dengan performa otot bagus, bulu bersih, nafsu makan baik, itu lebih cepat laku,” katanya.
Menurut Ahmad, pola kandang semi intensif yang diterapkan sebagian peternak Sidrap ikut membantu menjaga performa sapi. Sistem ini memungkinkan kontrol pakan lebih optimal dibanding metode penggembalaan penuh.
Di sisi lain, tingginya stok sapi juga menunjukkan siklus breeding atau pembiakan ternak di tingkat peternak rakyat berjalan cukup baik. Ketersediaan bakalan sapi tetap terjaga sehingga suplai tidak mengalami gangguan menjelang musim kurban.
Dalam dunia peternakan, keberhasilan penggemukan sangat dipengaruhi feed conversion ratio (FCR), yakni efisiensi pakan terhadap peningkatan bobot hidup ternak. Semakin rendah nilai FCR, semakin efisien biaya produksi peternak.
Selain itu, peternak mulai memanfaatkan kombinasi hijauan fermentasi, dedak, dan konsentrat protein untuk mempercepat pembentukan massa otot sapi potong.
“Pakan menjadi faktor utama. Kalau manajemen pakannya bagus, bobot sapi bisa naik signifikan dalam waktu relatif singkat,” jelas Ahmad Dollah.
Selanjutnya………..
Kondisi surplus ternak kurban tahun ini diperkirakan memberi efek ekonomi positif bagi peternak lokal. Harga sapi dengan bobot di atas 250 kilogram biasanya mengalami kenaikan tajam mendekati hari raya.
Tak hanya fokus pada stok, Dinas Peternakan dan Perikanan Sidrap juga memperketat pengawasan kesehatan hewan dan lalu lintas ternak guna mencegah penyebaran penyakit.
“Kami pastikan ternak yang masuk pasar memenuhi prinsip ASUH, Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. Pemeriksaan kesehatan terus dilakukan sebelum distribusi,” tegas Ahmad.
Dengan stok yang melimpah, Sidrap diproyeksikan bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga menjadi penyangga pasokan sapi kurban bagi sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. (edy)
Update terbaru: 17 Mei 2026 15:39 WIB
