Takalar, Katasulsel.com – Beras ketan tidak selalu berakhir menjadi ketupat atau kue. Di Takalar, beras ketan dimasukkan ke dalam ruas bambu, diberi santan, lalu dimasak di atas bara api. Makanan itu dikenal sebagai lammang.

Lammang menjadi bagian dari tradisi A’Lammang yang masih dijalankan masyarakat Desa Lantang, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Takalar. Tradisi tersebut berkaitan dengan rasa syukur masyarakat atas hasil pertanian dan menjadi salah satu kegiatan budaya yang terus dipertahankan.

Pada 1 Mei 2026, masyarakat Desa Lantang kembali menggelar pesta adat A’Lammang. Kegiatan tersebut juga dihadiri Pemerintah Kabupaten Takalar dan didorong untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari identitas kuliner daerah.

Lammang Dimasak di Dalam Bambu

Cara memasak menjadi bagian yang paling mudah dikenali dari lammang.

Beras ketan terlebih dahulu disiapkan, kemudian dimasukkan ke dalam ruas bambu yang telah dilapisi daun pisang. Santan ditambahkan ke dalam bambu sebelum kemudian dibakar menggunakan bara api.

Bambu tidak diletakkan langsung di atas api besar. Proses pembakaran membutuhkan pengaturan posisi agar bagian dalam matang tanpa membuat bambu cepat terbakar.

Setelah matang, bambu dibelah dan lammang dikeluarkan dari lapisan daun pisang. Bentuknya memanjang mengikuti ruas bambu yang digunakan sebagai wadah memasak.

Teknik tersebut membuat lammang berbeda dari olahan ketan yang dimasak menggunakan panci atau kukusan. Bambu sekaligus menjadi wadah dan bagian dari proses memasaknya.

A’Lammang Bukan Sekadar Memasak Ketan

Di Desa Lantang, lammang memiliki hubungan dengan tradisi A’Lammang.

Pesta adat A’Lammang menjadi salah satu kegiatan budaya masyarakat setempat yang berkaitan dengan ungkapan syukur atas hasil pertanian. Dalam pelaksanaannya, masyarakat berkumpul dan membuat lammang secara bersama-sama.

Tradisi ini membuat proses memasak lammang memiliki dimensi sosial. Bambu, beras ketan, santan, dan bara api bukan hanya menjadi bagian dari sebuah makanan, tetapi juga hadir dalam kegiatan yang mempertemukan masyarakat.

Pada 2026, pelaksanaan A’Lammang kembali digelar di Desa Lantang. Pemerintah Kabupaten Takalar menyebut kegiatan tersebut sebagai salah satu potensi budaya dan kuliner yang dapat terus dikembangkan.

Dari Bara Api ke Sajian Bersama

Lammang membutuhkan waktu dalam proses pembuatannya. Setelah bambu berisi beras ketan dan santan disusun di dekat bara, bagian dalamnya dimasak perlahan sampai matang.

Cara tersebut membuat pembuatan lammang berbeda dari memasak nasi biasa. Ada proses menyiapkan bambu, mengatur api, menjaga posisi bambu, hingga memastikan ketan matang merata.

Setelah matang, lammang dapat dipotong menjadi beberapa bagian sebelum disajikan. Teksturnya padat dan gurih karena penggunaan santan.

Lammang juga dikenal di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dengan variasi penyajian dan tradisi yang berbeda. Karena itu, A’Lammang di Takalar lebih tepat dilihat sebagai praktik budaya lokal masyarakat Takalar, bukan sebagai klaim bahwa lammang hanya berasal dari daerah tersebut.

Tradisi yang Tetap Dimasak

Di Desa Lantang, A’Lammang masih menjadi bagian dari agenda budaya masyarakat. Pelaksanaan pada 2026 menunjukkan tradisi tersebut belum berhenti sebagai cerita tentang masa lalu.

Lammang tetap dibuat dengan cara yang membutuhkan bambu, daun pisang, beras ketan, santan, dan bara api. Proses memasaknya berlangsung bersama kegiatan adat yang mempertemukan masyarakat.

Dari ruas bambu yang diletakkan di dekat bara, lammang perlahan matang. Setelah bambunya dibelah, ketan yang sejak awal tersembunyi di dalamnya baru terlihat dan siap disajikan.