Sidrap, katasulsel.com — Mobil-mobil melambat.
Sebagian bahkan zig-zag.

Bukan karena macet.

Tetapi karena lubang.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Di poros Pangkajene–Allakuang, Kabupaten Sidenreng Rappang, pengendara kini seperti sedang mengikuti ujian ketangkasan. Salah sedikit, ban bisa menghantam lubang dalam yang menganga di tengah badan jalan.

Di sejumlah titik, aspal nyaris tak lagi terlihat utuh. Yang tampak justru kubangan, retakan, dan permukaan bergelombang. Saat hujan turun, situasi makin sulit ditebak. Lubang tertutup air. Pengendara hanya bisa menerka-nebak: dangkal atau justru jebakan.

“Kalau malam paling bahaya. Banyak lubang dalam sekali. Mobil bisa langsung bunyi keras kalau kena,” kata Rahman, warga Pangkajene, Selasa.

Jalur itu sejatinya menjadi urat nadi aktivitas masyarakat. Truk pengangkut hasil pertanian, kendaraan pelajar, hingga roda ekonomi warga saban hari melintas di sana. Namun kerusakan yang terjadi membuat perjalanan berubah menjadi penuh kewaspadaan.

Beberapa pengendara mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan akibat kerusakan kaki-kaki kendaraan.

“Baru ganti shock mobil bulan lalu. Rusak lagi karena sering lewat sini,” ujar Irwan, pengemudi asal Allakuang.

Tetapi di tengah keluhan itu, muncul cerita lain.

Cerita tentang sebuah jalur alternatif yang mendadak viral dari mulut ke mulut warga.

Namanya bukan nama resmi.

Masyarakat menyebutnya: “jalan surga”.

Jalur itu menghubungkan Amparita menuju Kota Pangkajene melalui wilayah Panrenge. Tidak sedikit warga kini memilih memutar arah demi bisa melewati jalur tersebut.

Alasannya sederhana: mulus.

Aspalnya hitam rata. Di beberapa bagian bahkan sudah dibeton. Hampir tidak ditemukan lubang. Pengendara bisa melaju nyaman tanpa harus memainkan rem dan setir setiap beberapa meter.

“Kalau masuk di situ serasa pindah dunia. Tadi habis lewat jalan rusak, begitu masuk jalur Panrenge langsung nyaman sekali,” kata Asriani, warga yang setiap hari bekerja di Pangkajene.

Istilah “jalan surga” pun lahir spontan dari percakapan warga.

Bukan sekadar hiperbola.

Tetapi bentuk sindiran sosial.

Sebab bagi masyarakat, jalan mulus kini terasa seperti barang mewah.

“Kalau lewat poros utama itu kita tegang terus. Tapi kalau lewat jalan alternatif ini, serasa jalan di kota besar,” ujar seorang pengendara motor sambil tertawa.

Fenomena ini memperlihatkan satu hal penting dalam dunia infrastruktur: masyarakat sebenarnya tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin jalan yang layak dilalui.

Dalam teori pembangunan wilayah, jalan adalah “urat nadi ekonomi”. Ketika akses rusak, distribusi terganggu. Biaya transportasi naik. Risiko kecelakaan meningkat. Aktivitas warga ikut melambat.

Karena itu, kemunculan “jalan surga” di tengah rusaknya poros utama menjadi ironi tersendiri.

Satu jalur dipenuhi lubang.

Satu jalur dipenuhi pujian.

Kini, cerita tentang “jalan surga” bukan lagi sekadar jalur alternatif. Ia sudah berubah menjadi simbol harapan warga terhadap infrastruktur yang nyaman, aman, dan manusiawi.

Dan di Sidrap, istilah itu sedang sangat populer. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita

Update terbaru: 12 Mei 2026 13:40 WIB